Susah Dapat Listrik, Data Center Pakai Mesin Jet Bekas Boeing
Jakarta, CNBC Indonesia - Keterbatasan pasokan listrik untuk menopang data center AI mendorong sejumlah perusahaan teknologi mencari sumber energi alternatif. Salah satunya menggunakan mesin jet bekas pesawat yang telah dimodifikasi menjadi pembangkit listrik berbahan bakar gas alam.
Mesin tersebut berasal dari pesawat yang sudah pensiun. Perusahaan kemudian membangun ulang mesin jet itu agar bisa membakar gas alam dan menghasilkan listrik untuk memasok kebutuhan data center AI.
Meski bukan solusi pembangkit listrik permanen, penggunaan mesin jet bekas menjadi gambaran kurangnya pasokan listrik dibandingkan dengan pesatnya pembangunan infrastruktur AI. Antrean untuk mendapatkan sambungan jaringan listrik dan turbin baru bahkan bisa berlangsung hingga bertahun-tahun.
Kecepatan menjadi alasan utama perusahaan memilih mesin jet hasil modifikasi. Mesin tersebut bisa dioperasikan jauh lebih cepat dibandingkan menunggu sambungan jaringan listrik konvensional.
"Ini semua tentang mendapatkan listrik secepat mungkin," kata analis Rystad Energy, Audun Martinsen, kepada The New York Times, dikutip dari TechCrunch, Jumat (6/11/2026).
Dengan menggunakan unit pembangkit berbasis mesin jet, perusahaan bisa mengoperasikan data center dalam waktu 24 bulan.
Sebagai perbandingan, International Energy Agency memperkirakan penyambungan kapasitas listrik sebesar 100 megawatt ke jaringan di Northern Virginia membutuhkan waktu sekitar tujuh tahun.
Seorang eksekutif Mitsubishi Power, salah satu produsen peralatan pembangkit listrik terbesar di dunia, mengatakan kepada Bloomberg pekan lalu bahwa sebagian besar kapasitas listrik baru diperkirakan baru tersedia pada 2031. Lambatnya pasokan listrik bahkan mulai berdampak pada bisnis operator data center.
Bulan lalu, Microsoft mundur dari posisinya sebagai pelanggan utama proyek data center milik Nscale di Loughton, Inggris. Keputusan itu diambil setelah perusahaan utilitas setempat menyatakan belum bisa memasok listrik dalam jumlah cukup hingga awal atau pertengahan 2030-an.
Salah satu perusahaan yang sudah menggunakan mesin jet bekas tersebut adalah xAI milik Elon Musk. Perusahaan itu memasang delapan turbin hasil modifikasi mesin jet di Mississippi untuk membantu memasok listrik bagi data center Colossus 2 di Memphis.
Informasi tersebut berdasarkan laporan The New York Times yang mengutip dokumen perizinan negara bagian dan citra satelit.
Unit pembangkit itu dipasok ProEnergy, perusahaan yang membangun ulang mesin buatan GE yang umum digunakan pada pesawat Boeing.
Pada 2025, OpenAI mengikuti langkah Musk dengan menggunakan turbin gas di lokasi pertama proyek Stargate di Abilene, Texas.
Crusoe, perusahaan rintisan asal Denver yang membangun data center AI, tengah mengembangkan kompleks tersebut. Pada April, perusahaan memesan 13 unit mesin jet hasil modifikasi dari ProEnergy.
Namun, Crusoe sebelumnya membatalkan kesepakatan senilai US$1,25 miliar untuk membeli 29 turbin gas alam dari Boom Supersonic pada September.
Boom Supersonic merupakan perusahaan rintisan yang mengembangkan pesawat penumpang supersonik. Perusahaan itu juga mulai menjual versi mesin pesawatnya untuk digunakan sebagai pembangkit listrik di data center.
Juru bicara Crusoe mengatakan kepada TechCrunch saat itu bahwa perusahaan tetap berencana menggunakan turbin sebagai sumber energi.
Di sisi lain, pemerintahan Presiden Donald Trump turut menambah tekanan dengan mendorong operator data center menghasilkan listrik sendiri untuk memenuhi kebutuhan operasional mereka.
Meski menawarkan kecepatan, penggunaan mesin jet bekas memiliki sejumlah kelemahan. Menurut The New York Times, mesin tersebut lebih boros energi dan menghasilkan polusi lebih besar dibandingkan turbin yang memang dirancang untuk pembangkit listrik tenaga gas konvensional.
Selain itu, perusahaan membutuhkan lebih banyak mesin jet untuk menghasilkan kapasitas listrik yang sama.
Kondisi ini membuat mesin jet bekas berpotensi hanya menjadi solusi jangka pendek. Sejumlah pakar menilai efisiensi energi dan persoalan lingkungan bisa menjadi pertimbangan yang semakin penting dalam satu hingga dua tahun mendatang.
(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]