Ditolak Warga, Proyek Data Center Kini Terancam Bubar

Redaksi,  CNBC Indonesia
05 November 2026 14:10
Data Center. (REUTERS/Vincent West)
Foto: REUTERS/Vincent West

Jakarta, CNBC Indonesia - Penolakan masif masyarakat Amerika Serikat (AS) terhadap pembangunan pusat data (data center) raksasa akhirnya menemukan muaranya. Kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela (mid-term) yang berhasil merebut kendali Kongres menjadi angin segar bagi warga yang selama ini menolak eksploitasi lingkungan dan lonjakan beban energi akibat ekspansi data center.

Sinyal berbaliknya arah kebijakan ini langsung memicu guncangan di bursa saham Wall Street, Rabu (4/11) waktu setempat. Saham para pengelola data center bertumbangan seiring antisipasi investor terhadap pengawasan ketat dari pemerintah.

Saham Applied Digital (APLD) dan CoreWeave (CRWV) masing-masing ambles 8,8% dan 9,5%. Tekanan paling parah menghantam Cipher Digital (CIFR) yang terperosok hingga 21%, dikutip dari Reuters, Kamis (5/11/2026).

Keresahan Warga Jelang Pemilu

Sepanjang tahun ini, pembangunan data center memicu gelombang perlawanan dan protes publik di berbagai wilayah AS, termasuk di negara bagian yang menjadi pusat kluster data center seperti Texas dan Georgia.

Warga menyuarakan keresahan atas konsumsi listrik skala masif dan penyedotan sumber daya air secara mendalam yang mengancam pasokan domestik. Di sisi lain, proyek-proyek ini dinilai memicu lonjakan tarif listrik rumah tangga dan potensi kerusakan lingkungan di pemukiman sekitar.

Di bawah kendali Republik sebelumnya, ekspansi proyek infrastruktur AI ini cenderung melaju tanpa hambatan berkat guyuran insentif pajak dan kelonggaran regulasi. Namun, berbaliknya peta politik hasil mid-term memastikan narasi keberlanjutan dan perlindungan warga kini berada di garis depan.

Prospek Pengawasan Ketat dan Biaya Membengkak

Meskipun analis menilai regulasi baru tidak akan serta-merta menghentikan proyek yang sudah berjalan, keberadaan Kongres di bawah kendali Demokrat dipastikan memperluas ruang penyelidikan serta dengar pendapat (hearings) terkait dampak lingkungan dan penataan ruang data center.

Tekanan regulasi ini diprediksi memangkas margin keuntungan para pemain data center lantaran mereka kini dituntut bertanggung jawab penuh atas dampak lingkungan dan biaya energi.

"Pembangunan infrastruktur AI akan menjadi jauh lebih mahal, bukan menghilang. Berkurangnya insentif pajak serta tanggung jawab yang lebih besar atas biaya listrik dan air akan menekan imbal hasil (returns)," ungkap Chief Investment Officer Siebert Financial, Mark Malek.

Langkah tegas ini turut menghantam saham para penyedia listrik dan peralatan penunjang. GE Vernova (GEV) terkoreksi 11,5%, sementara Constellation Energy (CEG) dan Vistra (VST)-dua pemasok energi utama bagi proyek data center di Texas-masing-masing merosot 9,2% dan 15,4%.

Keberhasilan Demokrat menguasai Kongres menjadi pembuktian bahwa suara dan keresahan warga lokal terhadap dampak ekologis pengembangan teknologi akhirnya diakomodasi ke dalam panggung kebijakan tertinggi di Washington.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Elon Musk Kabur Lalu Habiskan Rp 6,7 Triliun Buat Ormas, Semua Sia-Sia


Most Popular
Features