Dunia Dalam Bahaya Besar, Jepang Sudah Siaga Situasi Darurat
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Jepang bergerak cepat membendung gelombang serangan siber global yang kian masif. Negeri Sakura tersebut kini tengah merancang skema untuk meminta akses lebih awal terkait data kerentanan perangkat lunak (software) yang belum terpublikasi dari para pengembang kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan raksasa teknologi asal Amerika Serikat (AS).
Langkah responsif ini diambil Tokyo demi memperkuat benteng pertahanan digital nasional di tengah maraknya peretasan yang menyasar berbagai sektor vital di seluruh dunia, sebagaimana dilaporkan Nikkei, Kamis (5/11/2026).
Pemerintah Jepang diperkirakan bakal merilis paket darurat keamanan siber (cybersecurity) dalam rapat tingkat menteri pada pekan ini.
Langkah cepat ini merupakan instruksi langsung dari Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, yang pada akhir Oktober lalu memerintahkan jajarannya untuk segera meracik strategi mitigasi guna merespons lonjakan peretasan global.
Ancaman siber memang makin mengkhawatirkan setelah terungkapnya celah keamanan kritis pada bahasa pemrograman PHP, yakni komponen utama penyokong sebagian besar jaringan internet dunia.
Insiden tersebut memicu jutaan gelombang serangan yang melumpuhkan berbagai situs pemerintah dan korporasi di sejumlah negara, hingga memaksa pengelola sistem mematikan layanan mereka secara mendadak.
Tak ingin kecolongan, Jepang mengambil langkah progresif dengan membentuk tim khusus yang memanfaatkan teknologi AI untuk mensimulasikan serangan siber secara mandiri. Langkah ini dilakukan demi mendeteksi titik lemah sistem sebelum dieksploitasi oleh peretas (hacker).
Melalui strategi baru ini, Tokyo memburu akses informasi celah keamanan tingkat tinggi sebelum diumumkan secara terbuka ke publik. Dengan begitu, lembaga pemerintah maupun operator infrastruktur krusial dapat melakukan tindakan pencegahan dan merespons ancaman jauh lebih cepat.
Guna memperkuat amunisi digitalnya, Jepang juga telah mengajukan perluasan akses terhadap model AI canggih dari pemain besar AS, seperti Anthropic dan OpenAI. Langkah ini diambil menyusul indikasi bahwa gelombang serangan siber belakangan ini kian canggih lantaran turut memanfaatkan bantuan teknologi AI.
(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]