Mantan Bawahan Tak Kaget Bos Besar Disadap Diam-Diam, Ini Alasannya
Jakarta, CNBC Indonesia - Ketika OpenAI mengumumkan penemuan alat perekam tersembunyi yang ditanam di ruang rapat bos-bos pada Oktober lalu, sejumlah mantan karyawan tidak terkejut.
Jauh sebelum OpenAI meluncurkan ChatGPT pada akhir 2022, jajaran staf internal telah berulang kali menyuarakan kekhawatiran terkait lemahnya sistem keamanan siber perusahaan.
Berdasarkan laporan Reuters, dikutip Rabu (4/11/2026), para karyawan telah menyampaikan peringatan tersebut kepada jajaran pimpinan tertinggi OpenAI hingga dewan direksi. Namun, manajemen dinilai lebih berfokus mengejar kecepatan inovasi demi menyaingi rival seperti Google dan Anthropic ketimbang memperketat sistem keamanan.
Kondisi tersebut dinilai membahayakan aset teknologi AS. Kendali keamanan OpenAI yang terlampau longgar dinilai mempermudah pihak luar, termasuk agen intelijen asing, untuk meretas rincian teknis proyek sensitif perusahaan.
Engineer Diduga Spionase Arab SaudiÂ
Kekhawatiran mantan staf OpenAI terbukti pada 13 Oktober lalu, ketika Departemen Kehakiman AS (DoJ) menangkap seorang warga negara Arab Saudi bernama Abdulrahman Alfozan (35). Engineer yang saat itu bekerja di OpenAI didakwa memasang alat perekam suara tersembunyi di dalam gulungan tisu toilet ruang rapat eksekutif.
Alfozan memanfaatkan sistem internal untuk melacak rencana kunjungan eksekutif OpenAI ke Arab Saudi serta mengidentifikasi pejabat yang dijadwalkan bertemu dengan menteri-menteri Kerajaan Saudi, menyusul komunikasi intensifnya dengan seorang anggota keluarga kerajaan.
Akses informasi internal di OpenAI memang tergolong sangat terbuka. OpenAI menyimpan sebagian besar kode sumbernya dalam satu repositori tunggal atau monorepo.
Semula monorepo yang rumit ini dianggap aman dari penyerang manual. Namun, kehadiran agen AI modern kini mempermudah pihak luar menyisir materi sensitif tersebut dalam hitungan detik.
Kerentanan ini terbukti pada Juli lalu, ketika firma keamanan siber Hacktron AI berhasil membobol akun ChatGPT milik sejumlah karyawan OpenAI menggunakan model AI besutan Anthropic, hingga berhasil mengakses monorepo internal OpenAI.
Kecepatan vs Keamanan: Dilema Rencana IPO
Sektor AI kini telah menjadi aset strategis nasional bagi AS. Namun, memperketat lapisan keamanan dinilai berisiko memperlambat laju pengembangan teknologi-sebuah dilema besar bagi OpenAI dan Anthropic yang tengah bersiap menggelar penawaran umum perdana (initial public offering/IPO).
Mantan peneliti OpenAI, Will DePue, mengungkapkan ketatnya persaingan membuat raksasa AI enggan mengorbankan kecepatan demi keamanan.
"Bagi pimpinan AI, bergerak cepat jauh lebih penting daripada menjadi aman, bahkan dari ancaman musuh terbesar negara," tulis DePue dalam unggahannya di platform X.
Menanggapi tuduhan tersebut, Juru Bicara OpenAI Elana Widmann menegaskan bahwa perusahaan berinvestasi besar-besaran untuk menangkis serangan siber dari peretas independen maupun peretas tingkat negara (nation-state).
"Melindungi teknologi, data, dan personel adalah tanggung jawab yang kami anggap serius serta merupakan prioritas nasional," ujar Widmann.
OpenAI kini mulai merombak strateginya di bawah komando Kepala Keamanan Informasi (Chief Information Security Officer/CISO) Dane Stuckey dan eksekutif senior Thibault Sottiaux.
Perusahaan telah menugaskan kembali seperempat insinyur produksinya untuk memperkuat infrastruktur pertahanan serta rutin menggelar evaluasi keamanan internal (security sprint).
(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]