MacBook Pro Pertama Pakai Layar Sentuh, Layak Beli atau Tidak?

Intan Rakhmayanti,  CNBC Indonesia
02 November 2026 17:15
Apple hari ini memperkenalkan MacBook Pro terbaru dengan Layar PROLED XDR. (Dok. Apple)
Foto: Apple hari ini memperkenalkan MacBook Pro terbaru dengan Layar PROLED XDR. (Dok. Apple)

Jakarta, CNBC Indonesia - Apple akhirnya resmi memperkenalkan MacBook Pro yang dibekali layar sentuh (touchscreen). Perusahaan menyebut panel layar tersebut sebagai "PROLED XDR Display", yang diklaim menawarkan cara baru bagi pengguna profesional untuk berinteraksi dengan konten.

Namun, kehadiran fitur ini justru menuai keraguan. Dalam ulasannya, kanal teknologi TechRadar menilai layar sentuh pada MacBook Pro belum tentu memberikan manfaat yang sepadan dengan lonjakan harga yang harus dibayar pengguna.

Salah satu persoalan utamanya terletak pada aspek kenyamanan (ergonomics). Interaksi melalui layar sentuh dinilai tidak terlalu diperlukan dan berpotensi membuat tangan cepat lelah jika digunakan dalam durasi panjang. Pengguna harus terus menerus mengangkat tangan dan menjangkau layar, sebuah gerakan yang rentan menimbulkan rasa pegal pada lengan.

Apple sendiri menonjolkan sejumlah kegunaan dari fitur baru tersebut. Desainer grafis, misalnya, dapat menggunakan seluruh area layar sebagai kanvas tanpa terbatas pada area trackpad saat menggambar. Sementara bagi para musisi, mereka dapat memainkan instrumen digital langsung melalui layar.

Kendati demikian, media teknologi tersebut mempertanyakan apakah aktivitas-aktivitas tersebut benar-benar nyaman dilakukan dalam jangka waktu lama. Memainkan instrumen dengan posisi tangan terus terangkat menjangkau layar laptop dinilai berpotensi menguras stamina lengan.

Jika pengguna hanya menyentuh layar sesekali lalu kembali menggunakan keyboard dan trackpad, manfaat fitur ini makin dipertanyakan, terlebih konsumen harus membayar biaya ekstra sebesar US$400 (sekitar Rp6,3 juta) dibandingkan MacBook Pro versi standar.

Memang, tambahan biaya tersebut juga mencakup pembaruan panel OLED yang menawarkan kualitas tampilan visual lebih mumpuni. Namun, TechRadar menilai fitur layar sentuh seharusnya memiliki alasan yang lebih kuat untuk dihadirkan, apalagi pada produk Apple yang dibanderol dengan harga premium.

Keraguan terhadap konsep laptop berlayar sentuh sebenarnya bukan hal baru. Pendiri Apple, Steve Jobs, pernah mengkritik keras konsep tersebut karena dinilai tidak ergonomis.

"Setelah beberapa saat, Anda akan mulai merasa lelah. Jika digunakan lebih lama lagi, lengan Anda rasanya seperti ingin copot," ujar Jobs semasa hidupnya, dikutip dari TechRadar, Senin (2/11/2026).

TechRadar menilai kritik Steve Jobs tersebut masih sangat relevan hingga sekarang. Meski Apple kemungkinan telah merancang layar sentuh agar terasa nyaman saat pertama kali dicoba, anatomi tubuh manusia tidak pernah berubah. Penggunaan dalam waktu lama tetap berisiko menimbulkan kelelahan dan rasa sakit pada otot lengan.

Kritik tajam juga mengarah pada alasan dasar Apple menghadirkan fitur tersebut. Dalam wawancaranya dengan Wired, CEO baru Apple, John Ternus, menjelaskan bahwa perusahaan hanya ingin memastikan penambahan layar sentuh tidak membuat produk menjadi lebih buruk, lebih berat, atau lebih tebal.

"Kami harus mencapai titik di mana penambahan fitur layar sentuh tidak membuat produk tersebut menjadi lebih buruk dalam aspek apa pun. Fitur ini tidak membuatnya lebih berat, tidak juga membuatnya lebih tebal. Hal ini terwujud berkat layar OLED, layar terbaik yang pernah kami pasang pada perangkat Mac. Semua elemen ini hadir," ujar Ternus saat ditanya oleh media Wired mengenai alasan Apple merilis MacBook layar sentuh.

Pernyataan Ternus tersebut dinilai TechRadar masih kurang memadai untuk menjelaskan alasan mendesak mengapa konsumen harus membeli MacBook Pro layar sentuh.

TechRadar menegaskan bahwa Apple selama ini dikenal sebagai perusahaan yang tidak sekadar mengekor tren, melainkan berusaha menghadirkan teknologi dengan terobosan terbaik.

Pada akhirnya, fitur layar sentuh ini dipandang lebih seperti sekadar kompromi untuk mengikuti jejak produsen laptop Windows ketimbang sebuah inovasi revolusioner yang menawarkan pengalaman baru bagi pengguna.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Apple Berubah Total Setelah Ganti CEO Baru John Ternus, Ini Bedanya


Most Popular
Features