Pencurian Terbesar Sepanjang Masa, Nasabah Langsung Kabur Bawa Rp 66 T

Redaksi,  CNBC Indonesia
02 November 2026 14:40
Sangar! Raja Kripto masuk jajaran orang tajir dunia
Foto: Infografis/ Sangar! Raja Kripto masuk jajaran orang tajir dunia / Aristya Rahadian

Jakarta, CNBC Indonesia - Para pengguna Binance menarik dana (net outflows) mencapai US$3,64 miliar atau sekitar Rp66 triliun (setara 2,1% dari total aset platform) pada Minggu (1/11) waktu setempat. Penarikan dana massal ini terjadi tak lama setelah bursa kripto terbesar di dunia tersebut mengaktifkan kembali layanannya pasca serangan peretas (hacker) asal Korea Utara yang membobol dana bernilai fantastis pada pekan lalu.

Manajemen Binance menyatakan bahwa tren penarikan dana mulai menunjukkan stabilitas setelah sempat melonjak tajam pada awal pembukaan. Pihaknya juga mencatat volume deposit pengguna masih berada pada tingkat yang signifikan. Hingga saat ini, Binance mengklaim telah mengganti 95% dari total aset yang dicuri senilai US$6,3 miliar (sekitar Rp114 triliun).

Aksi pembobolan ini diyakini para analis sebagai kasus perampokan finansial terbesar sepanjang sejarah, sekaligus menambah panjang daftar peretasan di industri aset digital. Tingkat penarikan dana ini menjadi ujian krusial bagi tingkat kepercayaan publik terhadap Binance pasca serangan.

Menurut data lembaga riset TRM Labs, sepanjang tahun lalu saja peretas telah menggondol kripto senilai US$2,9 miliar (Rp5,2 triliun) melalui hampir 150 insiden siber.

Di sisi lain, platform analisis blockchain DefiLlama melaporkan angka penarikan yang lebih tinggi, yakni mencapai US$5,81 miliar (sekitar Rp105 triliun). Namun, juru bicara Binance membantah akurasi data tersebut.

"Angka ini tidak memperhitungkan arus dana yang kami setorkan ke hot wallet baru milik internal kami sendiri, sehingga data tersebut kurang akurat. Pembaruan resmi kami di platform X adalah yang paling mendekati riil," ujar pihak Binance, dikutip dari Reuters, Senin (2/11/2026).

Binance menjelaskan bahwa pembukaan kembali fitur penarikan dana dilakukan secara bertahap dengan memprioritaskan permintaan pengguna. Pada tahap awal, fasilitas penarikan mencakup 15 aset kripto utama seperti Bitcoin, Ether, Dogecoin, serta beberapa stablecoin seperti USDC dan USDT.

Manajemen menambahkan, sekitar 5% sisa aset yang dicuri merupakan token dengan tingkat likuiditas rendah (illiquid assets), sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk pengadaannya di pasar.

FBI Tuduh Peretas Korea Utara di Balik Serangan Besar-Besaran Binance

Biro Investigasi Federal (FBI) Amerika Serikat secara resmi menuding kelompok peretas yang disokong pemerintah Korea Utara, TraderTraitor, sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan siber ini.

FBI mengungkapkan bahwa anggota unit siber tersebut terdeteksi mengonversi aset hasil curian ke dalam bentuk mata uang kripto Ether dan diperkirakan bakal terus melakukan pencucian uang (money laundering) melalui berbagai teknologi blockchain.

Analisis dari firma riset TRM Labs dan Chainalysis juga menguatkan keterlibatan Korea Utara. Sebagian besar aksi pencurian berlangsung sangat cepat, hanya dalam kurun waktu sekitar 20 menit pada Kamis malam, dengan pola yang identik dengan serangan siber Korea Utara terdahulu.

Meskipun demikian, pemerintah Pyongyang secara konsisten membantah keterlibatan unit sibernya dalam aksi spionase maupun pencurian keuangan internasional.

Secara mengejutkan, Presiden AS Donald Trump justru menyatakan sikap skeptis terkait tuduhan tersebut.

"Kita belum tahu pasti apakah pelaku utamanya adalah Korea Utara. Namun, jika benar, kita akan membicarakan hal ini langsung dengan Korea Utara," ujar Trump.

Binance Berjanji Ganti Seluruh Kerugian Nasabah

Binance kembali menegaskan komitmennya untuk menanggung seluruh dampak finansial akibat peretasan tersebut. Bursa kripto ini telah menyisihkan dana internal sebesar US$6,34 miliar untuk menutup seluruh kerugian pengguna.

Untuk membeli token pengganti, Binance memanfaatkan 50% dari total dana perlindungan Secure Asset Fund for Users (SAFU) bernilai US$1 miliar, sebuah dana cadangan Bitcoin yang disiapkan khusus untuk menangani insiden keamanan, serta menyerap kas internal dan Futures Insurance Fund. Binance berjanji akan segera mengisi kembali dana SAFU tersebut hingga utuh ke level US$1 miliar.

Co-CEO Binance, Richard Teng, mengungkapkan bahwa insiden ini merupakan "serangan yang sangat kompleks". Peretas diduga memanfaatkan laptop engineer perusahaan yang telah terkompromi serta menginstal perangkat lunak jahat (malware) yang mampu menghapus jejak digital untuk menyulitkan investigasi.

Imbas dari skandal ini, harga berbagai aset kripto sempat merosot tajam, sebelum akhirnya kembali stabil setelah Binance memberikan jaminan ganti rugi.

Pendiri Binance Puji Langkah Cepat Penagak Hukum AS

Melalui unggahan di platform X, pendiri Binance yang sempat tersandung kasus hukum di AS, Changpeng Zhao (CZ), menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada aparat penegak hukum AS atas dukungan cepat mereka dalam melacak dan membekukan aset yang dicuri.

"Sebuah ucapan di twit tidak cukup untuk menggambarkan rasa terima kasih kami. Banyak praktisi kripto yang tidak menyadari bahwa bertahannya harga Bitcoin saat ini merupakan andil besar dari kerja keras aparat penegak hukum AS," tulis Zhao.

Binance sendiri merupakan bursa kripto terbesar di dunia yang memfasilitasi transaksi jual beli aset digital bagi lebih dari 335 juta pengguna terdaftar secara global, dengan total aset kelolaan (assets under management) mencapai US$171 miliar per 28 Oktober.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Rp104 Triliun Lenyap Digondol Hacker, Binance Janji Ganti Rugi


Most Popular
Features