5 Pesan Paus Soal AI di Depan Ahli Teknologi di Seluruh Dunia
Jakarta, CNBC Indonesia - Di Aula Paus, Vatikan, pada Jumat 30 Oktober 2026, Paus Leo XIV menyampaikan pidato bersejarah kepada para ilmuwan, peneliti, dan pemikir teknologi dari seluruh dunia. Pertemuan bertema "Masa Depan Kecerdasan Buatan: Dialog antara Vatikan dan Dunia Ilmiah" diselenggarakan bersama oleh Akademi Kepausan untuk Kehidupan dan Institut Masa Depan Kehidupan.
Hanya 17 hari setelah menjalani operasi kanker paru-paru, beliau berdiri di hadapan peserta dan menyampaikan lima prinsip utama panduan bagi seluruh umat manusia di tengah pesatnya perkembangan teknologi, dikutip Senin (2/11/2026).
1. Masa Depan AI Belum Ditentukan
Paus memulai dengan menegaskan bahwa arah perkembangan AI bukanlah sesuatu yang sudah tertulis atau takdir yang tak dapat diubah.
"Masa depan kecerdasan buatan belumlah ditentukan sebelumnya," ujar beliau. Karena teknologi ini diciptakan oleh manusia, arahnya bergantung sepenuhnya pada pilihan yang kita ambil. Pertanyaan yang harus diajukan bukan sekadar "apa yang bisa dilakukan AI?" melainkan "untuk tujuan apa seharusnya AI itu dikembangkan?"
Paus memperingatkan bahwa mereka yang hanya menganggap ini perlombaan untuk dimenangkan akan melupakan mereka yang tertinggal di belakang.
2. Mesin Adalah Alat, Bukan Insan
"Mesin adalah alat, bukan insan," tegas Paus Leo XIV.
Paus mengingatkan bahwa sistem kecerdasan buatan tidak memiliki pengalaman, tidak merasakan sukacita atau kesakitan, tidak tumbuh melalui hubungan, dan tidak memahami makna kasih, pekerjaan, persahabatan, atau tanggung jawab.
Jika sistem semacam ini diberi status hukum sebagai pribadi, orang yang dirugikan akan berhadapan dengan entitas yang tak berwajah dan tak dapat dimintai pertanggungjawaban. Tanggung jawab harus tetap berada di tangan manusia.
3. Keputusan Tertentu Tak Boleh Diserahkan ke Mesin
Ada batas yang tak boleh dilanggar: keputusan yang menyangkut nyawa manusia, kebebasan, dan penggunaan kekuatan senjata harus tetap diambil oleh manusia secara sadar dan bertanggung jawab.
Paus mendesak negara-negara yang akan bertemu di Jenewa pada November ini untuk segera mengambil langkah nyata melarang senjata mematikan yang dapat beroperasi sepenuhnya secara mandiri tanpa kendali manusia. Teknologi harus "dilucuti" dari kemampuan mengambil keputusan yang menentukan hidup atau mati seseorang.
4. AIÂ Untuk Semua, Bukan Segelintir Orang Kaya
Kecerdasan buatan tidak boleh menjadi tujuan itu sendiri, atau sekadar menguntungkan mereka yang sudah kaya dan berkuasa. Manfaatnya harus terbagi merata, terutama kepada mereka yang paling membutuhkan. Kemajuan teknologi sejati adalah yang mempererat persaudaraan dan kebersamaan, bukan yang semakin memperlebar jurang perbedaan di antara umat manusia.
5. Butuh Lembaga yang Menjaga Kepentingan Seluruh Dunia
Prinsip-prinsip yang baik saja belum cukup. Diperlukan lembaga-lembaga yang mampu menerapkannya secara nyata, terutama lembaga internasional yang dapat menjaga kepentingan bersama seluruh umat manusia.
Hal ini menuntut standar yang disepakati bersama, pengawasan yang mandiri, serta mekanisme pertanggungjawaban yang jelas dan adil.
Pidato ini disampaikan di Aula Paus, Vatikan, pada pertemuan yang dihadiri para tokoh teknologi dan ilmu pengetahuan dari berbagai negara. Teks lengkapnya telah diterbitkan di situs resmi Vatikan, menjadi salah satu ajaran paling mendalam yang pernah disampaikan oleh pemimpin Gereja Katolik tentang kecerdasan buatan.
Pidato ini dipuji luas oleh para pemikir teknologi. Gary Marcus, ilmuwan kognitif dari Universitas New York, menyebut Paus Leo XIV sebagai "pemimpin dunia yang paling jernih berpikir soal AI saat ini."
Sementara itu, Oren Etzioni, pakar kecerdasan buatan yang meninjau pidato tersebut, sependirian dengan empat poin pertama namun menilai bahwa lembaga internasional belum tentu mampu bertindak cepat mengimbangi perubahan teknologi yang bergerak setiap beberapa bulan.
(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]