Pusat Data AI Meledak, Ancaman Polusi Udara Parah Ikut Melonjak
Jakarta, CNBC Indonesia - Ledakan pembangunan pusat data untuk menopang kecerdasan buatan (AI) di Texas, Amerika Serikat (AS), memicu peringatan soal polusi udara. Studi Houston Advanced Research Center (HARC) memperkirakan lonjakan kebutuhan listrik fasilitas tersebut dapat menghapus sebagian kemajuan pengurangan emisi yang dicapai Texas selama dua dekade terakhir.
Pusat data kini tersebar di Abilene, Dallas-Fort Worth, San Antonio, Austin, hingga Texas Barat, termasuk proyek yang terkait dengan Google, Microsoft, Amazon, dan Oracle. Ekspansi ini meningkatkan kebutuhan listrik dan berisiko memperburuk polusi udara, terutama jika pasokan energi masih bergantung pada bahan bakar fosil.
Wakil Presiden Solusi Energi, Udara, dan Digital HARC, Carlos Gamarra, sekaligus salah satu penulis studi, mengatakan dampak lingkungan sangat bergantung pada sumber energi yang digunakan.
"Dengan memproyeksikan emisi berdasarkan bauran jaringan listrik saat ini, kami melihat bahwa untuk berbagai polutan kriteria, kita akan kembali ke tingkat emisi seperti yang terjadi pada tahun 2000-an," ujarnya, seperti dikutip CBS, Rabu (28/10/2026).
Studi tersebut memodelkan dampak berbagai skenario pasokan listrik terhadap emisi hingga 2031, termasuk nitrogen oksida (NOx), senyawa organik yang mudah menguap (VOC), sulfur dioksida, partikel halus PM2.5, dan karbon dioksida.
Dalam skenario ketika tambahan kebutuhan listrik dipenuhi jaringan Texas dengan bauran energi yang diproyeksikan, emisi NOx pada 2031 diperkirakan 136% lebih tinggi dibandingkan skenario tanpa pembangunan pusat data baru.
Risiko tersebut mengancam capaian pengurangan emisi Texas pada 2002-2024. Dalam periode itu, emisi NOx dari pembangkit listrik turun 67%, sulfur dioksida 80%, VOC 37%, karbon dioksida 52%, dan PM2.5 sebesar 60%. HARC juga memperkirakan emisi VOC dalam skenario pertumbuhan pusat data dapat melampaui tingkat 2002 sebesar 32%.
Polusi berpotensi lebih tinggi jika pusat data menggunakan pembakaran bahan bakar di lokasi untuk menghasilkan listrik. Menurut studi HARC, emisi NOx dapat mencapai dua hingga 10 kali lipat dibandingkan skenario yang menggunakan listrik jaringan dengan dukungan energi surya dan angin.
"Berdasarkan analisis kami, jelas bahwa emisi polutan udara akan meningkat seiring dengan perkembangan industri pusat data," kata Gamarra.
Dampak pembangunan pusat data juga dikeluhkan warga Bastrop County. Jay Mirabito, warga kawasan Elm Ridge, mengatakan pembangunan kompleks pusat data oleh EdgeConneX menimbulkan kebisingan, debu, dan partikel beton di lingkungan tempat tinggalnya. Ia juga menyebut nilai propertinya turun sekitar US$70.000 atau setara Rp1,267 miliar.
Di wilayah yang sama, Pacifico Energy berencana membangun pembangkit listrik berbahan bakar gas alam untuk memasok pusat data di dekat permukiman. Warga meminta Komisi Kualitas Lingkungan Texas (TCEQ) menggelar pertemuan untuk membahas izin proyek tersebut.
Sementara itu, Big Watt + Powerhouse menyatakan fasilitasnya di Taylor akan menggunakan teknologi Selective Catalytic Reduction (SCR) untuk menekan emisi NOx hingga 90% atau lebih. Gamarra mengatakan pilihan teknologi, kepatuhan terhadap regulasi, dan pengawasan publik akan menentukan dampak ekspansi industri tersebut.
"Kita hanya perlu mencari cara untuk mengembangkannya secara berkelanjutan," katanya.
(sef/sef) [Gambas:Video CNBC]