Raja Judol Jadi Target Pemerintah Bertahun-tahun, Begini Hasilnya
Jakarta, CNBC Indonesia - Polymarket kembali menjadi sasaran penyelidikan otoritas Amerika Serikat (AS). Terbaru, pada Oktober 2026, Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas (Commodity Futures Trading Commission/CFTC) dilaporkan sedang menyelidiki apakah operator pasar prediksi tersebut telah melakukan upaya yang cukup untuk mencegah pengguna AS mengakses platformnya.
Berdasarkan laporan dua sumber yang dikutip dari Reuters, Rabu (28/10/2026), penyelidikan kali ini berfokus pada mekanisme kontrol dan proses operasional Polymarket di masa lalu.
Polymarket memang telah beberapa kali berada di bawah pengawasan ketat. Sejak diluncurkan pada 2020, platform 'judi online' yang mempertaruhkan berbagai topik tersebut telah menyetujui untuk berhenti menawarkan layanannya kepada pengguna AS pada 2022.
Namun, dua tahun kemudian atau beberapa bulan sebelum pemilihan umum (pemilu) AS berlangsung, CFTC kembali membuka penyelidikan untuk memastikan apakah platform tersebut mematuhi kesepakatan yang ada.
Saat pemilu berlangsung, para pengamat politik dan pengguna media sosial mempertanyakan apakah warga AS benar-benar mematuhi pembatasan Polymarket. Pada November 2024, kediaman CEO Shayne Coplan di New York bahkan sempat digeledah oleh FBI seiring dengan dibukanya kembali penyelidikan oleh Departemen Kehakiman AS.
Pada 15 Juli 2025, Coplan sempat mengklaim bahwa CFTC dan Departemen Kehakiman telah menutup penyelidikan mereka serta membersihkan nama perusahaan dari segala tuduhan pelanggaran.
Meski demikian, pada April lalu, seorang prajurit AS didakwa memperoleh keuntungan sebesar US$400 ribu (sekitar Rp7,2 miliar) dari taruhan insider trading di platform lepas pantai Polymarket. Kasus ini kembali memicu pertanyaan publik terkait sistem kontrol yang diterapkan oleh perusahaan.
Dalam penyelidikan terbarunya, CFTC disebut tengah memeriksa mekanisme kontrol lokasi pelanggan (geofencing) serta aktivitas periklanan Polymarket di AS.
Selain itu, penyelidikan juga mencakup operasional platform Polymarket di AS yang dirilis akhir tahun lalu, termasuk proses pendaftaran dan sistem perlindungan pelanggan.
Terkait pembatasan akses tersebut, Polymarket secara resmi telah melarang penggunaan Virtual Private Network (VPN) atau alat sejenis yang digunakan untuk mengelabui pembatasan wilayah.
Sebagai informasi, pasar prediksi (prediction market) merupakan platform tempat para pengguna bertaruh pada berbagai peristiwa di dunia nyata, mulai dari pertandingan olahraga, pengumuman kebijakan pemerintah, hingga hasil pemilihan umum.
Kendati demikian, sejumlah anggota parlemen dari Partai Demokrat dan kelompok advokasi mengkhawatirkan platform semacam ini dapat membuka celah baru bagi praktik perdagangan orang dalam (insider trading).
(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]