INTERNASIONAL

Nelayan Protes! Proyek Energi Hijau Bikin Tangkapan Ikan Anjlok-Banjir

Intan Rakhmayanti Dewi,  CNBC Indonesia
25 October 2026 20:30
This photograph taken on October 3, 2026 shows a fisherman working on fishing nets at a beach near a wind power plant in Sri Lanka's Mannar Peninsula. The government aims to generate 70 percent of the country's electricity from renewable sources by 2
Foto: AFP/ISHARA S. KODIKARA

Jakarta, CNBC Indonesia - Proyek turbin angin di Semenanjung Mannar, Sri Lanka, menuai protes warga. Pembangunan energi hijau itu dituding memicu penurunan hasil tangkapan ikan hingga banjir yang merendam permukiman saat musim hujan.

Nelayan setempat mengaku hasil tangkapan mereka menyusut sejak turbin angin mulai beroperasi pada 2020. Venkatasamy Kalimuththu, nelayan berusia 65 tahun, mengatakan ikan yang didapat kini jauh lebih sedikit dibandingkan sebelum turbin dipasang.

"Sebelum turbin angin dipasang, kami menangkap banyak ikan," katanya. "Sekarang, jauh lebih sedikit," ujarnya sebagaimana dilansir Channel News Asia, dikutip Minggu (25/10/2026).

Meski mengakui tidak memiliki bukti, Kalimuththu meyakini putaran baling-baling turbin membuat ikan menjauh dari perairan dangkal.

"Saat baling-baling berputar, bayangannya jatuh ke air," katanya. "Jadi, ikan tidak berenang ke perairan dangkal."

Nelayan lain memiliki pandangan serupa. Mereka juga menyoroti persaingan dengan kapal pukat asal India yang dinilai menambah tekanan terhadap aktivitas penangkapan ikan.

Warga juga menuding fondasi beton dan parit jalan akses turbin menghambat aliran air hujan menuju laut. Akibatnya, banjir kerap merendam rumah saat musim hujan, sementara sumur warga tidak lagi bisa menyediakan air minum yang layak.

Di desa tetangga Pesalai, pendapatan nelayan juga merosot. A Stanislas Peries, kepala koperasi nelayan setempat, mengatakan pendapatan harian yang sebelumnya mencapai 5.000 rupee kini hampir tidak lebih dari 1.000 rupee.

Menteri Energi Sri Lanka, Anura Karunathilaka mengatakan pemerintah sedang melakukan studi kelayakan untuk mengurangi banjir. Ia mengaku juga telah mendengar keluhan-keluhan tersebut.

"Kami telah berjanji ... bahwa hanya proyek-proyek yang telah disetujui yang akan dilaksanakan," ujarnya.

Pemerintah juga membekukan proyek baru di Mannar guna meredakan penolakan warga, meski tetap menargetkan 70% listrik nasional berasal dari energi terbarukan pada 2030.

Namun, warga belum puas. Pastor S Marcus, kepala Mannar Citizens' Committee, menilai pemerintah berulang kali menjanjikan langkah mitigasi tanpa realisasi. Warga pun telah mengajukan dua pengaduan ke pengadilan.

Penolakan ini menjadi tantangan bagi ambisi energi bersih Sri Lanka. Di tengah kenaikan biaya bahan bakar dan listrik akibat konflik di Timur Tengah, pemerintah berupaya memperluas energi terbarukan, sementara warga menuntut perlindungan terhadap mata pencaharian dan lingkungan tempat tinggal mereka.

(arj/arj) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Akun Instagram Demo Anti Presiden Diblokir, Meta Minta Maaf


Most Popular
Features