Rugi Raksasa AI Lompat Rp1.000 Triliun Hanya dalam 1 Tahun

Novina Putri Bestari,  CNBC Indonesia
21 October 2026 21:00
FILE PHOTO: Anthropic logo is seen in this illustration taken March 1, 2026. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration/File Photo
Foto: REUTERS/Dado Ruvic

Jakarta, CNBC Indonesia - Anthropic mencatatkan kenaikan kerugian bersih yang cukup signifikan. Dari hanya US$13 miliar (Rp 234 triliun), menjadi menyentuh angka US$80 miliar (Rp 1.449 triliun) selama semester I 2026.

Draf prospektus untuk penawaran umum perdana Anthropic mengungkapkan hal tersebut. Kerugian itu termasuk beban akuntansi sebesar US$72 miliar.

Dokumen itu menyebutkan nilai beban akuntasi mencerminkan peningkatan estimasi obligasi yang kemudian menjadi saham Anthropic. Informasi ini juga bukan biaya tunai terkait operasional perusahaan.

Reuters mencatat pengungkapan kerugian ini menggambarkan besarnya biaya untuk perlombaan di industri AI. Anthropic termasuk salah satu raksasa teknologi yang mengembangkan AI dan bersaing ketat dengan perusahaan seperti ChatGPT hingga Meta yang melakukan hal serupa.

Sebelumnya, Anthropic akan menghabiskan US$18 miliar (Rp 323,8 triliun) untuk cloud, komputasi dan infrastruktur selama satu dekade.

Reuters mengutip sumber menyebutkan pendapatan Anthropic pada kuartal III melonjak 45% menjadi US$16,8 miliar (Rp 302,2 triliun) dalam satu kuartal saja. Meski angka itu cukup menenangkana, namun masih ada sejumlah investor yang kecewa dengan lambatnya laju pertumbuhan.

Rencananya pembuat model AI Claude bakal melakukan IPO pada November mendatang. Berdasarkan dokumen terbaru, sejumlah investor memperkirakan valuasi US$1,5 triliun.

Pada September lalu, Anthropic juga mencatatkan kerugian bersih US$42 miliar (Rp 755,7 triliun) pada 2025 lalu. Sebagian besar juga karena beban akuntasi serupa.

Untuk kerugian operasional sendiri sebesar US$8,1 miliar (Rp 145,7 triliun) dari pendapatan US$4,6 miliar (Rp 82,8 triliun) pada periode yang sama.

(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Elon Musk Ingin Satukan Tesla dan SpaceX Jadi Satu Perusahaan


Most Popular
Features