BRIN Jelaskan Fungsi Pakai Dry Ice Atasi Asap Karhutla

Intan Rakhmayanti Dewi,  CNBC Indonesia
20 October 2026 19:40
Kabut asap akibat kebakaran hutan menyelimuti Palangka Raya, Kalimatan Tengah, Minggu (18/10/2026). (REUTERS/Arief Rahman Septian Prathama)
Foto: REUTERS/Arief Rahman Septian Prathama

Jakarta, CNBC Indonesia - Salah satu pendekatan yang tengah dicoba oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam upaya penanggulangan asap melalui operasi modifikasi cuaca adalah penyemaian es kering atau dry ice

Teknologi tersebut tengah diuji dan dievaluasi untuk mengetahui kemampuannya dalam memengaruhi kestabilan lapisan atmosfer yang menghambat pergerakan asap dan pembentukan awan hujan.

Perekayasa Utama Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Florentinus Heru Widodo, menjelaskan bahwa kondisi atmosfer pada wilayah terdampak karhutla saat ini menghadapi tantangan tersendiri bagi pelaksanaan modifikasi cuaca.

Menurutnya, dalam kondisi atmosfer normal, suhu udara umumnya makin menurun seiring bertambahnya ketinggian. Kondisi ini memungkinkan udara hangat di dekat permukaan bergerak naik melalui proses konveksi dan mendukung pertumbuhan awan.

Namun, ketika terjadi inversi suhu, terdapat lapisan udara yang lebih hangat di atas udara yang lebih dingin. Lapisan ini menghambat pergerakan vertikal udara sehingga pertumbuhan awan menjadi lebih sulit dan asap berpotensi terakumulasi di dekat permukaan.

"Lapisan inversi ini dapat diibaratkan sebagai penutup yang menghambat pergerakan udara ke atas. Akibatnya, asap dari kebakaran sulit menyebar secara vertikal dan makin terkonsentrasi di dekat permukaan," jelas Heru dalam keterangan resmi BRIN, dikutip Selasa (20/10/2026).

Pada saat yang sama, lanjutnya menjelaskan, kondisi atmosfer yang stabil juga menghambat pertumbuhan awan hujan.

Berbeda dengan penyemaian awan yang bertujuan meningkatkan peluang turunnya hujan pada awan yang memenuhi persyaratan, penggunaan es kering dalam konteks ini diarahkan untuk menguji kemungkinan terjadinya perubahan kondisi termal pada lapisan inversi.

Es kering memiliki suhu sekitar minus 78,5 derajat Celsius. Ketika dilepaskan ke atmosfer, bahan tersebut mengalami sublimasi, yakni perubahan dari fase padat menjadi gas, sambil menyerap panas dari lingkungan sekitarnya.

Secara konseptual, pendinginan lokal yang terjadi diharapkan dapat memengaruhi perbedaan suhu dan kerapatan udara, memicu pergerakan udara setempat, serta meningkatkan peluang pencampuran udara secara vertikal.

Jika perubahan tersebut cukup besar dan kondisi atmosfer mendukung, lapisan inversi berpotensi melemah sehingga udara dapat bergerak lebih bebas dan pertumbuhan awan memiliki peluang untuk berkembang.

Heru mengatakan, penggunaan dry ice diharapkan dapat menimbulkan pendinginan lokal dan memengaruhi kestabilan udara pada lapisan inversi.

Ia menegaskan bahwa mekanisme ini masih merupakan hipotesis ilmiah. Pihak BRIN masih harus menguji apakah perubahan yang dihasilkan benar-benar cukup untuk melemahkan inversi dan mendukung pertumbuhan awan.

Heru mengingatkan bahwa lapisan inversi dapat memiliki cakupan wilayah yang luas serta tingkat kestabilan yang berbeda-beda. Karena itu, gangguan suhu pada suatu lokasi belum tentu cukup untuk mengubah kondisi atmosfer secara keseluruhan.

Menurutnya, keberhasilan metode tersebut tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan perkiraan mekanisme pendinginan, melainkan harus dibuktikan melalui pengamatan dan analisis data atmosfer.

Lakukan analisis data

Untuk mendukung operasi tersebut, Heru menjelaskan, BRIN dapat melakukan analisis berdasarkan data pengamatan atmosfer yang dikumpulkan oleh instansi pelaksana operasi dan BMKG.

Data tersebut mencakup profil suhu udara secara vertikal, kelembapan, ketinggian dan ketebalan lapisan inversi, serta parameter kestabilan atmosfer.

Pengukuran dapat memanfaatkan data radiosonde, yaitu instrumen pengamatan atmosfer yang memberikan informasi mengenai kondisi suhu, kelembapan, dan parameter meteorologi pada berbagai ketinggian.

Selain itu, data pengamatan suhu selama penerbangan juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi lapisan tempat terjadinya inversi serta memperkirakan ketebalannya.

Pengamatan sebelum, selama, dan sesudah penyemaian perlu dilakukan secara sistematis sehingga setiap perubahan kondisi udara dapat didokumentasikan dan dibandingkan.

Menurut Heru, pendekatan tersebut penting karena efektivitas suatu teknologi modifikasi cuaca sangat dipengaruhi kondisi atmosfer pada saat operasi dilaksanakan.

"Kita ingin memastikan bahwa setiap teknologi yang digunakan dalam penanggulangan bencana memiliki dasar ilmiah yang kuat," terangnya.

"Data pengamatan menjadi kunci untuk mengetahui apakah perlakuan yang diberikan benar-benar mempengaruhi lapisan inversi, atau apakah perubahan kondisi yang terjadi juga dipengaruhi dinamika cuaca lainnya," pungkasnya.

(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Ada Bahaya Tersembunyi di Rancaekek Bandung, Ini Penjelasannya


Most Popular
Features