Dunia Dalam Bahaya Besar, Amerika dan China Harus Bersatu
Jakarta, CNBC Indonesia - CEO Nvidia, Jensen Huang, menegaskan bahwa perusahaannya yang berbasis di Amerika Serikat (AS), secara mutlak harus menjalin kerja sama dengan berbagai perusahaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) asal China. Kerja sama ini dinilai krusial untuk mengawasi serta memitigasi risiko dari teknologi yang ia sebut "berpotensi berbahaya".
"Kita mutlak harus saling bekerja sama agar bisa memajukan teknologi ini secara aman," tegas Huang dalam sesi media briefing di London, dikutip dari CNBCÂ International, Jumat (16/10/2026).
Isu keamanan AI memang tengah menjadi sorotan hangat global. Diskusi ini makin memanas setelah sejumlah peneliti senior dari laboratorium AI kenamaan, seperti OpenAI dan Anthropic, mendesak agar pengembangan teknologi AI diperlambat. Mereka bahkan memperingatkan adanya risiko eksistensial bagi kelangsungan hidup manusia.
Di saat CEO OpenAI Sam Altman dan CEO Anthropic Dario Amodei gencar menyerukan regulasi ketat dari pemerintah, Huang justru mengambil posisi berseberangan. Bos produsen chip paling bernilai di dunia itu menilai bahwa pengetatan regulasi bukanlah jalan keluar, melainkan dialog terbuka.
Huang mengaku dirinya secara rutin membuka komunikasi dengan para peneliti di Negeri Tirai Bambu.
"Kita harus meningkatkan dialog tersebut. AS harus melakukannya, dan saya juga menyarankan agar Inggris melakukan hal serupa," tambahnya.
Sinyal Mesra AS dan China
Keamanan AI kini resmi menjadi agenda prioritas dalam hubungan diplomatik AS dan China. Kedua raksasa ekonomi dunia tersebut tengah mengkaji formula terbaik untuk meredam ancaman dari pesatnya perkembangan AI.
Sebelum pertemuan bilateral antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping, Menteri Keuangan AS Scott Bessent telah menggelar diskusi khusus dengan mitranya dari China, He Lifeng, pada September lalu. Kedua belah pihak menjajaki pembentukan "Dialog AI AS-China", termasuk menyediakan saluran komunikasi darurat untuk menangani insiden AI yang mencapai tingkat ancaman keamanan nasional.
Berdasarkan laporan resmi (readout) pemerintah China, Presiden Xi Jinping menilai persaingan teknologi tidak menutup pintu kolaborasi bagi kedua negara.
"China dan AS mungkin memiliki kompetisi, tetapi peluang untuk bekerja sama jauh lebih besar. Kedua belah pihak dapat melanjutkan dialog AI, bertukar pikiran mengenai risiko dan manfaatnya, serta bersama-sama mencegah penyalahgunaan teknologi ini," ungkap Xi Jinping.
Di sisi lain, Huang menilai Inggris memiliki posisi strategis untuk menjadi penengah dan tuan rumah bagi dialog-dialog AI tingkat global, mengingat tingginya kapasitas modal intelektual (intellectual capital) yang dimiliki negara tersebut.
(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]