Saudara Terdekat Manusia Dirawat Lalu Ditombak Sampai Mati

Redaksi,  CNBC Indonesia
16 October 2026 20:20
Tulang belikat kiri individu Neanderthal bernama Shanidar A, yang hidup sekitar 75.000 tahun lalu, menunjukkan lubang melingkar yang mungkin disebabkan oleh tombak kayu tajam, terlihat di Pusat Studi Evolusi Manusia Leverhulme Universitas Cambridge d
Foto: (University of Cambridge/Handout via REUTERS)

Jakarta, CNBC Indonesia - Di sebuah gua di pegunungan Irak utara, tersimpan tulang yang menceritakan kisah dua hal yang tampak berlawanan, aksi kekerasan yang mematikan dan kasih sayang. Penemuan ini membuktikan bahwa spesies kerabat terdekat manusia, Neanderthal  juga memiliki empati, kepedulian, dan keinginan merawat sesama yang selama ini dianggap khas manusia saja, dikutip Jumat (16/10/2026).

Kerangka yang diberi nama Shanidar A ditemukan di Gua Shanidar, wilayah Kurdistan Irak, tertimbun sedalam 7,5 meter di bawah batuan dan tanah. Usianya diperkirakan sekitar 75.000 tahun. Di belikat kirinya terdapat lubang bundar sempurna selebar 15 milimeter yaitu bukti tusukan tajam yang menembus tubuh dari arah depan, menembus paru-paru, hingga keluar di punggung.

Berdasarkan bentuk lubangnya, para peneliti memastikan senjata yang digunakan adalah tombak kayu yang diasah tajam, bukan tombak berujung batu. Alat itu didorong dengan kekuatan penuh dari atas ke bawah, menembus dada, paru-paru, hingga menembus tulang belikat. Kematian diyakini terjadi dengan cepat.

"Jejak lukanya menunjukkan serangan langsung. Apakah itu perburuan yang berubah buruk atau pertikaian antar kelompok, belum dapat dipastikan. Namun yang jelas, kematian itu datang dengan cepat," ujar Emma Pomeroy, peneliti dari Universitas Cambridge yang memimpin penelitian ini.

Yang jauh lebih menyentuh bukanlah cara kematiannya, melainkan apa yang terjadi setelah luka parah lainnya setahun sebelumnya. Gigi depan Shanidar A hancur dan hilang - akibat pukulan keras ke wajah. Satu gigi retak dan tergeser, posisi gigi lain berubah. Luka itu tidak mematikannya, tetapi membuatnya kesulitan makan, minum, bahkan mungkin berbicara.

"Ini berarti selama berbulan-bulan, orang lain memberinya makanan yang sudah dilunakkan, menjaganya, membiarkannya beristirahat. Tanpa bantuan itu, ia tidak akan mampu bertahan," jelas Pomeroy.

Bukan hanya itu. Tubuhnya diletakkan dengan sengaja di tempat yang sama dengan empat orang Neanderthal lainnya, tersembunyi di balik pilar batu besar di bagian terdalam gua. Semua dikuburkan dalam kurun waktu yang tidak berjauhan, seolah-olah tempat itu menjadi ruang peristirahatan yang disucikan bagi kelompok mereka.

Temuan ini menegaskan hal yang selama ini diperdebatkan. Neanderthal bukan sekadar makhluk purba yang kasar dan tidak berakal. Mereka memiliki ikatan sosial yang kuat, mampu merawat anggota yang lemah, serta menguburkan orang yang dicintai.

"Kita melihat dua sisi sekaligus, kekerasan dan perhatian, pada individu yang sama. Itu bukan hal yang hanya dimiliki manusia modern. Neanderthal juga mampu berbuat baik sekaligus berbuat buruk, persis seperti kita," kata Pomeroy.

(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Manusia Kawin Campur dengan Spesies Lain, Umur Anak Hanya 5 Tahun


Most Popular
Features