Buruh Ancam Mogok Kerja, Presiden Langsung Turun Tangan

Redaksi,  CNBC Indonesia
15 October 2026 17:40
FOTO ARSIP: Logo Micron muncul dalam ilustrasi ini yang diambil pada 25 Agustus 2025. REUTERS/Dado Ruvic/Ilustrasi/Foto Arsip
Foto: REUTERS/Dado Ruvic

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Taiwan Lai Ching-te mengimbau produsen chip memori asal AS, Micron Technology, beserta para pekerjanya untuk bernegosiasi secara "sungguh-sungguh" jelang ancaman aksi mogok kerja oleh serikat pekerja di pulau tersebut.

Ancaman mogok kerja ini mengemuka setelah serikat pekerja Micron mengantongi otorisasi dari para anggotanya pekan lalu. Konflik ketenagakerjaan ini dipicu perselisihan skema bonus di pusat manufaktur terbesar milik raksasa produsen chip tersebut.

Untuk diketahui, Taiwan merupakan salah satu basis produksi paling vital bagi Micron. Perusahaan mencatatkan jumlah tenaga kerja sekitar 15.000 orang dengan total nilai investasi menembus T$1,6 triliun (Rp886 triliun).

Berbicara dalam peresmian fasilitas perakitan dan pengujian canggih Micron di Taichung, Lai berharap pemerintah dan sektor swasta dapat bersinergi mendorong komunikasi yang lebih erat antara manajemen dan pekerja.

"Kami berharap pihak pekerja dan manajemen menjunjung tinggi prinsip saling membutuhkan-ibarat 'ikan butuh air dan air butuh ikan'-dengan terus bernegosiasi secara sungguh-sungguh demi mencapai konsensus bersama," ujar Lai, dikutip dari Reuters, Kamis (15/10/2026).

"Hubungan industrial yang harmonis adalah kunci win-win solution. Karyawan bisa bekerja dengan tenang, dan bisnis pun dapat melaju stabil dalam jangka panjang," tambahnya.

Dalam kesempatan tersebut, Lai juga mengapresiasi komitmen Micron di Taiwan dan mendorong perusahaan untuk terus memperluas ekspansi investasinya. Ia mengungkapkan bahwa Micron telah mengamankan dukungan pemerintah untuk riset dan pengembangan (R&D) High-Bandwidth Memory (HBM)-komponen krusial untuk server kecerdasan buatan (AI) selain chip DRAM.

Permintaan Chip AI Melonjak Tajam

Di sisi lain, President & Chief Operating Officer Micron, Manish Bhatia, memilih tak menyinggung isu ancaman mogok kerja dalam pidatonya yang disampaikan tepat sebelum Lai naik ke panggung.

Bhatia justru menegaskan optimisme pasar terhadap produk memori canggih buatan Micron yang laris manis diburu industri.

"Kapasitas produksi pabrik baru ini untuk tahun 2027 sudah ludes terjual (sold out). Kami memproyeksikan pertumbuhan High-Bandwidth Memory akan melampaui rata-rata industri DRAM hingga tahun 2028," ungkap Bhatia.

Terkait respons atas imbauan Presiden Lai, serikat pekerja Micron di Taichung menyatakan kepada Reuters bahwa mereka menantikan "dialog dan negosiasi yang lebih substantif" dari manajemen. Sementara itu, pihak Micron maupun serikat pekerja wilayah Taoyuan belum memberikan tanggapan resmi.

Sebelumnya, dua serikat pekerja Micron di Taoyuan dan Taichung mendesak perusahaan untuk menyodorkan proposal pembagian keuntungan (profit-sharing) yang konkret bagi para karyawan.

Proses mediasi serikat pekerja Taoyuan sempat menemui jalan buntu pada September lalu, sedangkan serikat pekerja Taichung hingga kini masih bertahan di meja perundingan.

Sebagai langkah penekanan, serikat pekerja mengimbau para anggotanya untuk mengambil cuti satu hari pada 19 Oktober mendatang guna menggelar aksi unjuk rasa di Taipei. Pihak serikat menegaskan bahwa aksi massa tersebut murni unjuk rasa dan bukan merupakan aksi mogok kerja (strike).

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Pabrik Sebar Bonus 68 Kali Gaji Biar Karyawan Enggak Demo


Most Popular
Features