Karyawan Terancam Dipenjara Usai Rekam Ucapan Bos Saat Rapat
Jakarta, CNBC Indonesia - Kasus mengejutkan mengguncang industri kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Seorang engineer OpenAI berkebangsaan Arab Saudi diciduk agen federal Amerika Serikat (AS) setelah kedapatan nekat memasang perangkat perekam suara tersembunyi secara diam-diam di ruang rapat eksekutif perusahaan pengembang ChatGPT tersebut.
Dikutip dari Reuters, Rabu (14/102026), Departemen Kehakiman AS mengonfirmasi penangkapan pelaku yang diidentifikasi bernama Abdulrahman Alfozan (35). Insiden spionase korporat ini langsung menyoroti ketatnya pertarungan keamanan data di tengah sengitnya perebutan talenta dan teknologi riset AI tingkat tinggi.
Siasat Licik di Markas San Francisco
Kasus ini terbongkar ketika staf OpenAI menemukan sebuah perangkat perekam seukuran ibu jari yang dicolokkan ke porta USB di bagian belakang televisi. Alat yang dilengkapi mikrofon dan kemampuan terhubung ke kamera itu disembunyikan secara rapi di balik gulungan tisu toilet di ruang rapat eksekutif salah satu gedung OpenAI di San Francisco pada 30 September lalu.
Berdasarkan dokumen pengaduan FBI, perangkat tersebut dipasang sekitar tanggal 28 September. Penyelidik kemudian juga menemukan perangkat modifikasi serupa yang disimpan di dalam tas pribadi Alfozan.
Tak hanya itu, penyelidikan mengungkap bahwa Alfozan sempat menggunakan agen produktivitas berbasis AI selama sebulan penuh hingga 16 September untuk melacak jadwal kalender dan kapabilitas ruang rapat eksekutif.
OpenAI Bongkar Ulah Pegawai Pakai AI
OpenAI tidak tinggal diam. Perusahaan pimpinan Sam Altman tersebut mengerahkan model AI internal mereka sendiri untuk melacak asal-usul perangkat dan mengidentifikasi oknum di balik pemasangan alat sadap tersebut.
Dari hasil penelusuran, OpenAI mengantongi bukti kuat bahwa pelaku berencana memperluas aksinya dengan menempatkan lebih banyak alat perekam di area-area sensitif kantor demi membocorkan rapat-rapat penting perusahaan.
"Hingga saat ini, kami tidak menemukan indikasi bahwa individu tersebut secara tidak sah mengakses atau mengeluarkan bobot model (model weights), kode sumber, maupun data pelanggan. Pegawai yang bersangkutan telah kami pecat," tegas pernyataan resmi OpenAI.
Pihak OpenAI langsung menyerahkan kasus ini sepenuhnya kepada Biro Investigasi Federal (FBI) untuk pengusutan lebih lanjut. Direktur FBI Kash Patel menyebut tindakan Alfozan sengaja dilakukan untuk mencuri komunikasi sensitif terkait teknologi superintelligence milik perusahaan.
Akibat perbuatannya, Alfozan yang telah menjadi penduduk tetap legal di AS sejak 2020 ini terancam hukuman penjara hingga lima tahun, denda sebesar US$250.000, serta tiga tahun masa pelepasan bersyarat jika terbukti bersalah di pengadilan.
Rentetan Gejolak Internal OpenAI
Skandal penyadapan ini menambah panjang daftar ketegangan di tubuh OpenAI. Sebelumnya, perusahaan juga baru saja mendepak tiga peneliti, yakni Jasmine Wang, Tomek Korbak, dan Mikita Balesni, karena dianggap melanggar kebijakan penanganan informasi sensitif.
Di sisi lain, laporan terpisah menyebutkan bahwa OpenAI tengah merintis pembicaraan awal untuk mengakuisisi startup keamanan siber Trail of Bits, guna memperketat celah kerentanan perangkat lunak di tengah ekspansi masif teknologi mereka.
(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]