Warga Ngamuk Data Center Sedot 30 Juta Galon Air Tanpa Bayar

Intan Rakhmayanti,  CNBC Indonesia
14 October 2026 13:40
Ilustrasi Data Center. (Dok. Pexels/BRETT SAYLES)
Foto: Ilustrasi Data Center. (Dok. Pexels/BRETT SAYLES)

Jakarta, CNBC Indonesia - Warga di Fayetteville, Georgia, Amerika Serikat (AS), meluapkan kemarahan setelah mengetahui sebuah pusat data (data center) menggunakan hampir 30 juta galon, atau setara dengan 113 juta liter, air secara ilegal tanpa tercatat dan tanpa ditagih selama berbulan-bulan. Ironisnya, insiden ini terjadi di tengah imbauan pemerintah agar warga setempat menghemat air akibat kekeringan.

Otoritas pengelola air Fayette County menemukan dua sambungan air berskala industri yang memasok kampus data center milik Quality Technology Services (QTS). Satu sambungan diketahui dipasang tanpa sepengetahuan pihak berwenang, sementara sambungan lainnya tidak terhubung dengan akun perusahaan sehingga lolos dari penagihan.

Pihak QTS akhirnya ditagih sebesar US$147.474 (mendekati Rp2,6 miliar) atas penggunaan lebih dari 29 juta galon air, yang volumenya setara dengan sekitar 44 kolam renang ukuran Olimpiade. Berdasarkan laporan Politico, Rabu (14/10/2026), perusahaan tersebut telah melunasi seluruh tagihan tersebut setelah menerima pemberitahuan resmi.

Direktur Sistem Air Fayette County, Vanessa Tigert, menyatakan bahwa kesalahan tersebut terjadi akibat kekeliruan prosedur saat wilayah itu sedang beralih menggunakan sistem meteran pintar (smart meter). Kendati demikian, otoritas setempat tidak menjatuhkan denda kepada pihak QTS.

Keputusan untuk tidak memberikan sanksi denda ini langsung memicu kemarahan publik, terutama mengingat warga sebelumnya diminta mengetatkan penggunaan air dan dilarang menyiram halaman demi menghemat persediaan daerah.

"Jadi, hal pertama yang mereka lakukan adalah menekan individu dan warga agar berhenti mengonsumsi air, sementara QTS justru benar-benar menguras persediaan kami," protes James Clifton, warga yang pertama kali membongkar dokumen surat tagihan tersebut.

Ia menambahkan, QTS kini menjadi salah satu konsumen air terbesar di wilayah tersebut, bahkan menduduki peringkat pertama dalam hal volume pemakaian pada sebagian besar bulan.

Di sisi lain, QTS membantah anggapan bahwa operasional pusat datanya menghabiskan banyak air untuk sistem pendingin. Perusahaan mengeklaim bahwa lonjakan penggunaan air pada tahun lalu murni berasal dari kegiatan konstruksi sementara, seperti pencampuran beton, pengendalian debu, dan persiapan lahan proyek.

Setelah beroperasi secara penuh, QTS berdalih fasilitas tersebut hanya akan menggunakan air untuk kebutuhan domestik sehari-hari, seperti kamar mandi dan dapur. Meski demikian, pembangunan kampus data center Fayetteville ini masih terus berlanjut dan diperkirakan baru akan rampung dalam tiga hingga lima tahun ke depan.

Kasus ini semakin memperpanjang daftar penolakan warga terhadap masifnya pembangunan data center di negara bagian Georgia, yang kini telah menampung lebih dari 200 fasilitas serupa. Di tengah krisis kekeringan yang melanda wilayah itu, Dewan Kota Fayetteville bahkan telah mengeluarkan keputusan bulan lalu untuk melarang pembangunan data center baru di seluruh zona wilayah kota.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Warga Batam Mengeluh Tak Dapat Air Sejak Ada Data Center


Most Popular
Features