Paus dan Obama Diserang Orang Dekat Wapres, Tuduhannya Kejam

Novina Putri Bestari,  CNBC Indonesia
12 October 2026 08:45
Billionaire tech investor Peter Thiel look overr the podium before the start of the second day session of the Republican National Convention in Cleveland, Tuesday, July 19, 2016. (AP Photo/Carolyn Kaster)
Foto: AP/Carolyn Kaster

Jakarta, CNBC Indonesia - Saat banyak bos teknologi menyuarakan kekhawatiran soal AI, Peter Thiel yang merupakan bos Palantir Technologies berlaku sebaliknya. Dia menyerang orang-orang yang mengkritik AI dan menyebut mereka ingin meningkatkan popularitas.

Bahkan miliarder teknologi berusia 58 tahun itu juga menyebut nama mantan Presiden Barack Obama dan Paus Leo XIV sebagai pihak yang mengeksploitasi ketakutan soal AI.

Thiel dilaporkan berbicara dalam serangkaian kuliah soal anti-kristus di Roma.

"Banyak orang tahu AI tidak populer secara politik dan ingin memanfaatkannya untuk meningkatkan popularitas sendiri. Baik Obama dan Paus termasuk dalam kategori ini. Obama tahu Partai Dmeokrat tidak memiliki ide, namun bisa menentang AI," jelasnya dikutip dari Politico, Jumat (9/10/2026).

Dia juga menuding Paus Leo berupaya mengalihkan perhatian dari skandal pelecehan seksual Gereja Katolik. AI yang sangat populer disebutnya jadi alat pengalihan tersebut.

"Dia butuh sesuatu yang populer secara politik, mengalihkan perhatian dari skandal pelecehan seksual anak yang dilakukan gereja dan menemukannya dalam AI," kata Thiel.

Thiel, yang dikenal dekat dengan Wakil Presiden AS JD Vance, telah berulang kali menulis dan berbicara soal anti-kristus. Menurutnya, anti-kristus tidak hanya sosok, tetapi bisa menjadi sistem pemerintahan global yang berkuasa dengan mengeksploitasi ketakutan atas teknologi dan perubahan iklim.

Di sisi lain, Obama dan Paus Leo XIV memang telah menyuarakan pendapatannya dan kekhawatiran soal AI.

Obama, misalnya, mendesak Partai Demokrat menyusun rencana lebih komprehensif soal teknologi tersebut.

Sementara Paus Leo menjadikan AI dalam tema ensiklik pertamanya. Berjudul Magnifice Humanitas (Magnificient Humanitas/Kemanusiaan yang Agung), dia mengingatkan soal AI yang menyebarkan informasi salah.

AI disebutnya juga bisa mendorong konflik dan berisiko membawa perang yang tidak berkesudan di dunia.

Dia pun meminta kepemilikan data tidak hanya diserahkan pada pihak swasta. Pembuat kebijakan harusnya berbenah dan membuat kebijakan bagi pelindungan hak pekerja dan anak-anak untuk bisa tetap aman dari AI.

Baru-baru ini, dia juga menyerukan untuk seniman bisa bersatu menjaga kreativitas di tengah perkembangan AI. Kerja sama Gereja Katolik dengan para seniman dilakukan sebagai upaya melakukan pelindungan pada sesuatu yang menjadi ciri khas manusia.

(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Video: Data Center Melonjak, Kebutuhan Air Membengkak


Most Popular
Features