Trump Tiba-Tiba Serukan Ganti Presiden Ukraina!
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyerukan agar Volodymyr Zelensky mundur dari jabatan Presiden Ukraina. Menurutnya, negara itu butuh presiden yang baru.
Dilansir BBC, Minggu (11/10/2026), seruan itu muncul usai Zelensky melontarkan kritik terkait kesepakatan AS mengenai bahan bakar minyak sisa pengolahan atau diesel asal Rusia. Trump pun merespons kritik itu dengan mengatakan Ukraina perlu presiden baru. "Sudah saatnya Ukraina memiliki presiden baru," kata Trump di luar Gedung Putih, Sabtu (10/10).
Sebelumnya, Zelensky memperingatkan bahwa kesepakatan baru untuk memasukkan jutaan ton diesel Rusia ke AS akan memberikan dana bagi Moskow untuk melanjutkan perang melawan negaranya. Dia menyebut hal itu sebagai hadiah bagi Presiden Rusia Vladimir Putin.
Trump kemudian mengatakan Zelensky "ingin menciptakan masalah bagi dunia" dengan terus mengizinkan serangan terhadap kilang-kilang minyak Rusia. Dia mendesak Zelensky berhenti dari jabatan Presiden Ukraina. "Dia sebaiknya benar-benar berhenti," ujar Trump.
Pasokan bahan bakar global, termasuk diesel, sangat terbatas akibat perang yang dipicu AS dan Israel terhadap Iran. Hal itu telah menyebabkan tertutupnya Selat Hormuz yang merupakan jalur penting bagi seperlima produk minyak dunia.
Rusia, sebagai produsen utama energi, juga masih berperang dengan Ukraina. Pihak Ukraina baru-baru ini meningkatkan serangan terhadap infrastruktur energi dan fasilitas transportasi Rusia sehingga semakin menekan pasar energi.
"Kami bilang, 'Anda boleh melakukan apa saja terhadap Rusia, tapi jangan serang kilang-kilang minyaknya', karena hal itu menimbulkan masalah bagi dunia," ujar Trump.
"Dia sebenarnya bisa saja membuat banyak kesepakatan, namun entah mengapa, dia tidak pernah melakukannya."
Utusan Putin, Kirill Dmitriev, menyebut intervensi Trump sebagai sesuatu yang "ikonik dan bersejarah". Dia mengatakan Ukraina "membutuhkan kepemimpinan yang benar-benar berfokus pada perdamaian".
Zelensky bereaksi dengan mengatakan bahwa hal itu akan memungkinkan Moskow menggalang dana baru untuk memperoleh peralatan militer guna melanjutkan perang. Dia juga menuduh Moskow menganggap kesepakatan tersebut sebagai tanda bahwa mereka "bisa terus berperang dan terus menjatuhkan bom ke kota-kota" menyusul serangan mematikan baru di Zaporizhzhia.
(pgr/pgr) [Gambas:Video CNBC]