Puluhan Juta Pekerja Kena, Ini 10 Profesi Paling Rentan Diganti AI

Redaksi,  CNBC Indonesia
10 October 2026 08:30
Asisten robot membantu para arkeolog menyusun lukisan dinding Pompeii. (REUTERS/Guglielmo Mangiapane)
Foto: Asisten robot membantu para arkeolog menyusun lukisan dinding Pompeii. (REUTERS/Guglielmo Mangiapane)
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Gelombang adopsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan teknologi otomatisasi diperkirakan akan mengguncang pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS) dalam satu dekade ke depan. Sekitar 11 juta pekerja, atau 7% dari total angkatan kerja AS, diperkirakan harus beralih profesi pada 2035.

Hal itu terungkap dalam laporan McKinsey Global Institute yang memperkirakan adopsi AI dan otomatisasi bisa memangkas permintaan terhadap pekerjaan yang ada saat ini hingga 21%, setara dengan 36 juta pekerjaan, pada 2035.

Meski demikian, ledakan AI juga diproyeksikan menciptakan lebih dari 40 juta lapangan kerja baru di AS dalam satu dekade ke depan.

Dari 36 juta pekerjaan yang terdampak, sekitar 25 juta pekerja diperkirakan masih bisa bertahan di profesinya, meski sifat pekerjaannya akan berubah. Sisanya, 11 juta pekerja, harus pindah ke bidang lain.

"Kabar baiknya, permintaan [tenaga kerja baru] akan lebih tinggi dibanding penurunannya," ujar Direktur McKinsey Global Institute Tanguy Catlin.

10 Profesi Paling Terdampak

Laporan itu memetakan 10 kelompok pekerjaan yang paling terdampak otomatisasi berdasarkan jumlah pekerja penuh waktu, porsi jam kerja yang bisa diotomatisasi atau diperkuat teknologi, serta perkiraan penurunan permintaan tenaga kerja.

1. Administrasi dan dukungan perkantoran

Jumlah pekerja penuh waktu: 18 juta
Jam kerja terdampak: 81%
Penurunan permintaan tenaga kerja: 38%

2. Pertanian, perikanan, dan kehutanan

Jumlah pekerja penuh waktu: 400.000
Jam kerja terdampak: 76%
Penurunan permintaan tenaga kerja: 43%

3. Teknologi dan analitik

Jumlah pekerja penuh waktu: 5,2 juta
Jam kerja terdampak: 70%
Penurunan permintaan tenaga kerja: 22%

4. Manufaktur dan produksi

Jumlah pekerja penuh waktu: 8,5 juta
Jam kerja terdampak: 68%
Penurunan permintaan tenaga kerja: 25%

5. Ritel dan penjualan

Jumlah pekerja penuh waktu: 13,3 juta
Jam kerja terdampak: 67%
Penurunan permintaan tenaga kerja: 27%

6. Bisnis dan keuangan

Jumlah pekerja penuh waktu: 10,5 juta
Jam kerja terdampak: 62%
Penurunan permintaan tenaga kerja: 18%

7. Layanan makanan

Jumlah pekerja penuh waktu: 13,7 juta
Jam kerja terdampak: 60%
Penurunan permintaan tenaga kerja: 31%

8. Seni, media, dan hiburan

Jumlah pekerja penuh waktu: 1,9 juta
Jam kerja terdampak: 58%
Penurunan permintaan tenaga kerja: 13%

9. Transportasi dan logistik

Jumlah pekerja penuh waktu: 13,8 juta
Jam kerja terdampak: 55%
Penurunan permintaan tenaga kerja: 30%

10. Instalasi dan perbaikan

Jumlah pekerja penuh waktu: 6,1 juta
Jam kerja terdampak: 54%
Penurunan permintaan tenaga kerja: 15%

Tak Semua Pekerjaan Hilang

Catlin menegaskan tingginya tingkat otomatisasi tidak selalu berarti berkurangnya kebutuhan pekerja. Sejumlah profesi justru akan "diciptakan ulang" atau diperkuat oleh AI, bukan digantikan.

Ia mencontohkan bidang hukum. Otomatisasi bisa memengaruhi 47% jam kerja di sektor ini, tetapi proyeksi penurunan permintaan tenaga kerjanya hanya 18%. Pengacara yang dulu banyak menghabiskan waktu untuk riset kini bisa menyerahkan sebagian pekerjaan itu kepada AI, lalu lebih fokus pada tugas yang membutuhkan penilaian manusia.

"Jabatan atau titel Anda tidak berubah, tetapi cara Anda menghabiskan waktu berubah drastis," kata Catlin.

Laporan McKinsey juga menekankan perbedaan antara pekerjaan yang secara teori bisa diotomatisasi dan yang benar-benar akan diotomatisasi. "Teknologi menentukan apa yang mungkin, tetapi keputusan manajerial menentukan seberapa cepat kemungkinan itu menjadi kenyataan," tulis laporan tersebut. Karena itu, jumlah pekerja yang harus beralih profesi diperkirakan berkisar 6-16 juta orang, dengan 11 juta sebagai estimasi dasar.

Jalan Terjal Pindah Profesi

Bagi 11 juta pekerja yang tergeser, beralih ke pekerjaan baru dinilai tidak akan mudah. Hanya satu dari tujuh pekerja yang diperkirakan memiliki jalur "langsung" ke pekerjaan baru, yakni peran dengan keterampilan serupa, sertifikasi yang mudah didapat, dan gaji setara atau lebih tinggi.

Sebaliknya, hampir 45% pekerja berpotensi menghadapi jalur yang "belum diaspal". Mereka mungkin harus pindah domisili, menjalani pelatihan ulang secara signifikan, atau mengambil sertifikasi baru, sering kali dengan gaji lebih rendah dari sebelumnya.

Agar 11 juta pekerja bisa mendapatkan pekerjaan baru dalam satu dekade, sekitar 770.000 pekerja harus berpindah kelompok profesi setiap tahun. Laju itu sekitar 3,6 kali lipat rata-rata historis.

Catlin menilai transisi tersebut masih mungkin terwujud, tetapi membutuhkan respons di tingkat sistem, di mana pemberi kerja dan pemerintah berinvestasi dalam pelatihan ulang pekerja. Ia juga menyarankan pekerja mengasah kemampuan memecahkan masalah, komunikasi interpersonal, kolaborasi, berpikir kritis, rasa ingin tahu, dan kemauan belajar.

"Laju perubahan tidak akan pernah lagi selambat hari ini. Karena itu, kita membutuhkan tenaga kerja yang siap beradaptasi, terus berbenah, dan terus belajar," ujarnya.

(fsd/fsd) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Tanda Otak Manusia Makin Tumpul, Ilmuwan Bunyikan Alarm Bahaya


Most Popular
Features