Amerika Makin Parno, Warga China Dituduh Menyamar Mengaku Pejabat

Intan Rakhmayanti Dewi,  CNBC Indonesia
07 October 2026 12:15
Foto kolase bendera Amerika Serikat dan China. IREUTERS/Dado Ruvic/Illustration/File Photo)
Foto: Foto kolase bendera Amerika Serikat dan China. IREUTERS/Dado Ruvic/Illustration/File Photo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Hacker yang diduga terkait pemerintah China melakukan spionase dengan menyamar sebagai mantan pejabat Amerika Serikat (AS) dan karyawan perusahaan kecerdasan buatan (AI) Anthropic. Mereka menargetkan pakar AI di sejumlah universitas, lembaga think tank, dan firma hukum di AS.

Perusahaan keamanan siber asal Silicon Valley, Proofpoint, menemukan aktivitas tersebut. Para peretas menyasar akun email para ahli yang menangani isu pengendalian ekspor AI, penggunaan AI untuk militer, serta berbagai topik strategis lainnya.

Proofpoint tidak menemukan bukti bahwa peretas berhasil membobol organisasi yang menjadi sasaran. Namun, perusahaan memperingatkan bahwa aktivitas yang terungkap kemungkinan hanya sebagian dari operasi yang lebih luas.

Mark Kelly, staf peneliti Proofpoint, mengatakan bahwa pihaknya yakin kelompok tersebut merupakan aktor ancaman yang berafiliasi dengan pemerintah China.

"Kami yakin bahwa [kelompok peretas] tersebut adalah aktor ancaman yang selaras dengan pemerintah China berdasarkan penargetan yang secara konsisten sejalan dengan kepentingan pemerintah China, infrastruktur yang diamati dan artefak teknis, serta konfirmasi dari mitra industri," kata Kelly, dikutip dari CNN, Rabu (7/10/2026).

Upaya peretasan itu terjadi pada Februari dan Juli, ketika AI makin menjadi salah satu isu utama dalam hubungan AS-China.

Dalam salah satu aksinya, para operator siber yang diduga berasal dari China menyamar sebagai Lynne Parker, mantan pejabat teknologi senior di Gedung Putih pada pemerintahan Donald Trump dan Joe Biden.

Peretas mengirim email dengan mengatasnamakan Parker kepada seseorang di sebuah firma hukum AS. Dalam email tersebut, mereka mengundang korban untuk bergabung dengan komite penasihat kebijakan AI.

Pelaku kemudian mengirim dokumen yang telah disisipi malware dengan dalih memberikan informasi lebih lanjut mengenai komite tersebut. Parker mengatakan bahwa rekan-rekannya mulai menghubunginya setelah menerima email mencurigakan dari orang yang mengaku sebagai dirinya.

"Kekhawatiran pertama saya adalah terhadap rekan-rekan yang mungkin menerima email penyamaran tersebut," kata Parker, yang kini menjadi Associate Vice Chancellor Emerita di University of Tennessee, Knoxville.

"Saya ingin memperingatkan mereka, tetapi kemudian menyadari bahwa sangat sulit untuk melakukannya ketika saya tidak tahu siapa yang menjadi sasaran," lanjutnya.

Selain Parker, Proofpoint menemukan bahwa operator yang diduga berasal dari China juga menyamar sebagai karyawan senior Anthropic, perusahaan AI AS yang berselisih dengan pemerintahan Trump terkait pembatasan penggunaan teknologi AI.

Pada 26 Februari, peretas mengirim email dengan mengatasnamakan karyawan Anthropic tersebut kepada seorang analis kebijakan AI di sebuah lembaga think tank AS.

Email tersebut memiliki subjek "Request for Feedback on Military Integration of Claude", yang merujuk pada salah satu model AI milik Anthropic.

Menurut para pakar yang memantau aktivitas kelompok peretas China, operasi siber tersebut menyasar hampir seluruh ekosistem AI.

Targetnya mulai dari semikonduktor yang menjadi fondasi teknologi hingga orang-orang yang mengembangkan dan mengatur teknologi tersebut.

(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Dunia Bersiap Hadapi Petaka Baru, Trump-Xi Jinping Mau Duduk Bareng


Most Popular
Features