Rumah Sakit Pakai AI, Pasien Malah Bayar Makin Mahal
Jakarta, CNBC Indonesia - AI dituding membuat tagihan rumah sakit semakin mahal. Tuduhan ini diungkapkan Asosiasi Blue Cross Blue Shield (BCBSA).
Menurut lembaga itu, penggunaan kode medis berbasis AI di rumah sakit membuat tambahan rencana kesehatan hampir US$1 miliar (Rp 17,91 triliun) selama 2023 hingga 2025. Sebagian besar tagihan berasal dari diagnosis sekunder, yang membuat pasien ditagih biaya yang lebih tinggi.
Temuan BCBSA mencatat terdapat pertumbuhan pengkodean kompleks terjadi saat 60% sistem rumah sakit mulai menggunakan alat pengkodean AI. Selain itu 70% atau US$653 juta (Rp 11,7 triliun) dari tagihan adalah diagnosis tambahan tanpa adanya perubahan perawatan.
Meski begitu, peningkatan ini tidak disangkutpautkan seluruhnya dengan AI. Namun diyakini AI memang memiliki peran penting dalam bengkaknya tagihan layanan rumah sakit.
|
Pilihan Redaksi
|
"Meski banyak faktor yang berkontribusi pada intensitas coding, temuan ini menunjukkan alat pengkodean dan dokumentasi yang didukung AI memiliki peranan," kata wakil presiden senior produk dan ilmu data BCBSA, Luke Chalker, dikutip dari CNBC Internasional, Senin (5/10/2026).
Dia menambahkan coding lebih kompleks bisa menyebabkan biaya yang lebih tinggi. Ini terjadi tanpa adanya perawatan yang lebih teliti.
"Biaya-biaya itu bisa muncul pada premi yang lebih tinggi dan biaya yang ditanggung," kata dia.
AI memang telah diadopsi dalam layanan kesehatan dari rumah sakit hingga perusahaan asuransi. Biasanya untuk penagihan, programming serta peninjauan klaim.
Terkait analisis BCBSA, Asosiasi Rumah Sakit Amerika (American Hospital Association/AHA) membantahnya. Pihak asosiasi menyebut AI membantu penyedia layanan kesehatan yang tepat untuk mencatat kondisi pasien dan membantu perencanaan perawatan.
"Analisis BCBSA tidak memiliki konteks yang dibutuhkan untuk menilai bagaimana alat tersebut berpengaruh pada kualitas layanan kesehatan, akses pasien, atau pengeluaran," kata juru bicara AHA.