Bos ChatGPT Bilang Tak Masalah AI Timbulkan Korban Manusia, Wajar Saja
Jakarta, CNBC Indonesia - Sam Altman, pendiri dan pimpinan tertinggi OpenAI, menyampaikan pandangan yang menimbulkan perdebatan panas. Dalam wawancara terbaru, ia menegaskan bahwa kemajuan kecerdasan buatan atau AI sangat penting sehingga kemungkinan terjadinya dampak buruk bagi sebagian orang tidak dapat dihindari dan harus diterima sebagai bagian dari proses, dikutip dari laporan Politico, Senin (5/10/2026).
Altman menyatakan bahwa menghentikan atau memperlambat pengembangan AI justru akan merugikan lebih banyak orang dalam jangka panjang. Menurutnya, teknologi ini akan membawa perubahan besar bagi peradaban, dan tidak mungkin mewujudkannya tanpa risiko atau pengorbanan. Pernyataan ini memicu reaksi beragam, terutama di kalangan yang mengkhawatirkan keamanan dan dampak sosial dari teknologi yang berkembang begitu cepat.
Pandangan ini muncul di tengah kekhawatiran yang makin meluas. Banyak pihak memperingatkan bahwa jika pengembangan dilakukan tanpa pengawasan yang ketat, AI dapat menimbulkan kerugian nyata , mulai dari hilangnya mata pencaharian, penyebaran informasi yang menyesatkan, hingga kesalahan dalam bidang kesehatan maupun hukum.
Namun Altman menekankan bahwa manfaat yang akan diperoleh jauh lebih besar dibanding risiko tersebut, sehingga langkah ke depan tidak boleh dihentikan.
Pernyataan ini juga mempertegas perbedaan pandangan antara para pelaku industri yang ingin mempercepat kemajuan dan mereka yang menginginkan perlindungan lebih ketat bagi masyarakat. Di satu sisi, teknologi diharapkan membuka peluang baru yang belum pernah ada sebelumnya. Di sisi lain, tanpa aturan yang jelas, siapa yang akan menanggung kerugian jika hal buruk terjadi?
Altman bukan orang pertama yang menyampaikan pandangan serupa, namun pernyataannya yang lugas menimbulkan reaksi tajam. Kritikus menilai pandangan ini seolah mengorbankan kepentingan sebagian orang demi keuntungan yang belum tentu dirasakan semua pihak.
Mereka menekankan bahwa kemajuan tidak boleh didasari asumsi bahwa kerugian bagi sebagian orang adalah hal yang wajar dan dapat diterima.