Restoran McDonald's Peras Duit Pembeli Sampai Kering

Redaksi,  CNBC Indonesia
05 October 2026 20:20
McDonald's akan menutup gerainya di Rusia. AP/
Foto: McDonald's akan menutup gerainya di Rusia. AP/

Jakarta, CNBC Indonesia - Rantai makanan cepat saji raksasa McDonald's diam-diam menggunakan kecerdasan buatan atau AI untuk menentukan harga makanannya. Sistem ini menghitung berapa maksimal yang bersedia dibayarkan pelanggan di setiap lokasi, sehingga harga yang sama bisa berbeda jauh antar tempat yang berdekatan, dikutip dari laporan Futurism, Senin (5/10/2026).

Berdasarkan penyelidikan Reuters, algoritma yang dipakai menganalisis jutaan transaksi setiap hari lalu menghasilkan harga yang dianggap paling menguntungkan bagi perusahaan. Hasilnya, perbedaan harga menjadi sangat mencolok. Di satu lokasi di Fresno, California, satu paket Big Mac dijual seharga US$ 5,69. Di tempat lain yang hanya berjarak sekitar tiga kilometer, makanan yang sama dijual US$ 6,89 atau naik 21 persen.

McDonald's menyatakan bahwa alat pemberi rekomendasi harga ini hanyalah panduan, bukan perintah wajib. Namun sejumlah pemilik waralaba mengaku justru mendapat tekanan untuk mengikuti saran sistem tersebut. Kantor pusat memantau siapa yang tidak mengikuti harga yang dianjurkan, dan ketidakpatuhan ini menjadi salah satu hal yang dinilai saat meninjau kerjasama mereka.

Pendapatan kantor pusat diambil dari persentase penjualan, bukan keuntungan. Artinya, makin mahal harga yang terjual, makin besar uang yang masuk ke kantor pusat, meskipun pemilik tempat makan sendiri belum tentu mendapat untung lebih besar. Beberapa pemilik waralaba justru khawatir karena sistem terkadang menyarankan penurunan harga yang membuat mereka rugi.

Cara kerja sistem ini dikembangkan bersama perusahaan analisis data Tiger Analytics. Perusahaan memberi arahan kepada AI untuk menaikkan harga pada makanan yang belum mengalami kenaikan dalam dua tahun terakhir. Dengan begitu, setiap kali ada peluang, harga akan disesuaikan naik sejauh mana pun pasar masih sanggup membayarnya.

Praktik penetapan harga dinamis sempat dipakai perusahaan lain seperti Instacart, namun dihentikan setelah mendapat protes luas dari masyarakat. Sistem itu diperkirakan dapat menambah pengeluaran keluarga rata-rata hingga US$ 1.200 setahun hanya untuk belanja kebutuhan harian.

Artinya, harga yang Anda lihat di papan menu bukan lagi sekadar biaya bahan ditambah keuntungan wajar. Itu adalah angka yang dihitung mesin secara terus-menerus, mencari batas tertinggi yang masih bersedia Anda bayar sebelum berpindah ke tempat lain. Ini bisa jadi baru permulaan. Jika berhasil, metode serupa bisa menyebar ke mana-mana termasuk McDonald's di Indonesia.

(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Video: AI Industri Manufaktur, Seberapa Besar Dongkrak Daya Saing?


Most Popular
Features