Warga RI Sudah Tak Percaya dengan Media Sosial, Sebut Rusak Negara

Redaksi,  CNBC Indonesia
02 October 2026 21:20
Ilustrasi warga menggunakan aplikasi sosial media di Kawasan Ciputat, Tangerang Selatan, Selasa, (19/7/2022). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Ilustrasi warga menggunakan aplikasi sosial media di Kawasan Ciputat, Tangerang Selatan, Selasa, (19/7/2022). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pandangan masyarakat dunia terhadap dampak media sosial berubah secara nyata dalam beberapa tahun terakhir. Lembaga penelitian Pew Research Center merilis survei yang melibatkan 37 negara pada 1 Oktober 2026.

Secara keseluruhan, rata-rata 55 persen warga masih menilai media sosial membawa dampak baik bagi demokrasi, sementara 35 persen berpendapat sebaliknya. Namun di negara-negara berpenghasilan tinggi, pandangan negatif justru lebih mendominasi. Di Amerika Serikat sebanyak 64 persen menganggap media sosial merugikan demokrasi. Pergeseran pandangan ini juga terlihat jelas di Indonesia, yang perubahannya termasuk yang paling tajam di kawasan Asia Tenggara, dikutip dari laporan resmi Pew, Jumat (2/10/2026).

Tiga tahun lalu, pada survei tahun 2023, sebanyak 64 persen warga Indonesia menilai media sosial membawa dampak yang baik bagi demokrasi. Angka itu kini turun menjadi 55 persen. Sebaliknya, yang menganggap media sosial merugikan demokrasi naik tajam dari 24 persen menjadi 43 persen. Kenaikan sebesar 19 poin persentase ini menjadikan Indonesia salah satu negara dengan perubahan pandangan paling signifikan di kawasan maupun dunia.

Warga Indonesia merasakan dua sisi yang bertolak belakang secara bersamaan. Sebanyak 77 persen menyetujui bahwa media sosial membuat masyarakat lebih mengetahui peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Sebanyak 55 persen juga merasa media sosial memberi suara yang lebih bermakna dalam kehidupan politik. Namun di saat yang sama, 66 persen sepakat bahwa media sosial mempermudah menyebarkan informasi yang menyesatkan untuk mempengaruhi pandangan masyarakat. Selain itu, 55 persen merasa media sosial justru memecah belah pandangan politik di antara warga.

Jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga, perubahan pandangan di Indonesia terlihat sangat menonjol. Di Malaysia, yang menganggap media sosial buruk bagi demokrasi hanya 27 persen. Di Singapura angkanya lebih rendah lagi, yaitu 22 persen. Di Filipina dan Thailand, masing-masing hanya 23 persen dan 21 persen yang melihat dampak buruk.

Di sisi lain, persentase yang menilai media sosial hal baik masih sangat tinggi di negara-negara tersebut. Filipina 72 persen, Thailand 71 persen, Malaysia 65 persen, dan Singapura 63 persen. Artinya, meskipun Indonesia masih berada di kelompok mayoritas yang melihat sisi baik dari media sosial, penurunan pandangan positif dan kenaikan pandangan negatif di negeri ini jauh lebih cepat dibandingkan negara-negara tetangga.

Ada beberapa hal yang dapat menjelaskan perbedaan ini. Di Indonesia, media sosial memainkan peran yang sangat besar dalam peristiwa politik dan pemilihan umum dalam beberapa tahun terakhir. Penyebaran berita yang belum terverifikasi, narasi yang memecah belah, serta informasi yang menyesatkan kerap muncul berbarengan dengan peristiwa penting. Hal ini membuat warga makin merasakan dampak negatifnya secara langsung. Di negara tetangga, meskipun tantangan serupa juga ada, pergeseran pandangannya belum secepat yang terjadi di Indonesia.

Kelompok usia muda di Indonesia cenderung lebih memandang sisi positif dibandingkan kelompok yang lebih tua. Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman sehari-hari dalam menggunakan media sosial ikut membentuk pandangan seseorang. Bagi generasi yang tumbuh bersama media sosial, ruang tersebut terasa lebih sebagai sarana berpartisipasi. Sementara bagi mereka yang lebih dewasa, perubahan suasana yang cepat dan kadang tidak terkendali terasa lebih mengkhawatirkan.

Artinya, manfaat keterbukaan informasi tetap dirasakan luas di Indonesia, tetapi risiko perpecahan dan ketidakbenaran kini dirasakan lebih nyata daripada sebelumnya. Pergeseran ini menjadi sinyal peringatan bahwa ruang publik yang sehat tidak terjaga sendirian.

(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Dulu Dipuja Sekarang Dibenci, Ini Tokoh yang Paling Tak Dipercaya


Most Popular
Features