Data Center AI Menjamur, Listrik-Air Mahal, Orang Kaya Borong Pesawat

Intan Rakhmayanti,  CNBC Indonesia
01 October 2026 17:45
Pesawat Jet Pribadi Kaesang & Erina. (Tangkapan Layar Video X @aqfiazfan via CNBC Indonesia TV)
Foto: Pesawat Jet Pribadi Kaesang & Erina. (Tangkapan Layar Video X @aqfiazfan via CNBC Indonesia TV)

Jakarta, CNBC Indonesia - Lonjakan bisnis kecerdasan buatan (AI) membuat harta sejumlah orang melonjak, bahkan mendorong mereka memburu barang-barang mewah seperti yacht dan jet pribadi.

Laporan UBS yang dirangkum Financial Times mencatat jumlah miliarder dunia meningkat 13% sepanjang April 2025 hingga April 2026. Jumlahnya mencapai rekor 3.302 orang dengan kekayaan bersih sedikitnya US$1 miliar.

Lebih dari 1.000 di antaranya berbasis di Amerika Serikat. Bahkan ketika digabungkan, kekayaan mereka rata-rata naik 25 persen, jauh melampaui pertumbuhan kekayaan pribadi global yang hanya 10,8 persen. Kenaikan kekayaan ini didorong terutama oleh melesatnya valuasi perusahaan-perusahaan AI dan semikonduktor.

Namun ternyata, selera para miliarder baru ini berbeda dengan generasi orang kaya lama. Mereka tak puas dengan hanya rumah, tapi juga memesan kapal pesiar supermewah, jet pribadi, hingga mobil-mobil mewah dengan spesifikasi khusus.

Wakil direktur perusahaan penerbangan mewah FlyVictor, Toby Edwards, menjelaskan bahwa standar kemewahan lama seperti sampanye dan caviar sudah ditinggal.

Sebaliknya, para miliarder AI justru meminta hal-hal yang terkesan sederhana tetapi sangat spesifik, seperti jenis air minum tertentu dan menu makanan yang sehat.

"Mereka menyewa jet pribadi demi efisiensi dan kerahasiaan, bukan untuk pamer," ujar Edwards dikutip dari laporan tersebut.

Paul Charles, konsultan perjalanan mewah, menambahkan bahwa kemunculan orang kaya baru dari dunia AI memicu gelombang permintaan baru bagi perusahaan penyedia jet, yacht, dan mobil mewah.

"Konsep pelanggan yang cermat memilih kini sudah kuno. Perusahaan-perusahaan harus beradaptasi melayani generasi pelancong mewah baru yang lahir dari kekayaan AI ini," ujarnya.

Kekayaan yang terkonsentrasi di segelintir orang itu justru muncul di saat daya beli masyarakat luas makin tertekan.

PHK Massal Karyawan Diganti AI

Selain itu, kekayaan yang menumpuk di tangan segelintir orang itu lahir dari teknologi yang justru mengancam jutaan pekerja. Menurut survei S&P Global pada 2026, dampak adopsi AI terhadap lapangan kerja berbalik menjadi negatif. Dalam 12 bulan terakhir, jumlah perusahaan yang melaporkan pengurangan tenaga kerja berkat AI 5 poin persentase lebih banyak daripada yang menambah pegawai. Tren ini diperkirakan memburuk dua poin lagi tahun depan.

Teknologi AI generatif dan kecerdasan buatan yang semakin mandiri kini mulai mampu menggantikan seluruh rangkaian pekerjaan, bukan sekadar membantu alat kerja.

Pekerja fresh graduate, staf administrasi, pembuat konten, hingga tenaga kreatif menjadi kelompok yang paling rentan. Bank of America memperingatkan bahwa munculnya "agen AI" yang bisa bekerja sendiri tanpa pengawasan manusia dapat menciptakan gelombang pengurangan tenaga kerja yang jauh lebih besar dibanding gelombang sebelumnya.

Bahkan ketika perusahaan tetap mempekerjakan manusia, AI cenderung menekan upah dan memindahkan keuntungan kepada pemilik modal yaitu para miliarder teknologi yang namanya kini makin melambung.

Harga Listrik Naik

Biaya lain yang harus ditanggung masyarakat luas datang dari rakusnya konsumsi energi pusat data atau data center yang melatih mesin-mesin AI. Data center seukuran biasa saja sudah menghabiskan listrik setara 100.000 rumah tangga. Diperkirakan pada 2028, pusat data bisa menyedot 12 persen dari seluruh konsumsi listrik Amerika Serikat.

Akibatnya, tagihan listrik warga di sekitar pembangunan data center ikut melonjak. Penelitian Universitas Carnegie Mellon memperkirakan kenaikan bisa mencapai 25 persen atau lebih. Perusahaan penyebab lonjakan itu tidak menanggung sepenuhnya beban justru dialihkan ke pelanggan rumah tangga biasa melalui tarif listrik yang naik.

Belum lagi kebutuhan air yang luar biasa besar untuk mendinginkan mesin-mesin AI. Menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa, konsumsi air terkait AI diperkirakan setara dengan kebutuhan dasar air minum 1,3 miliar orang pada akhir dekade ini.

Di beberapa wilayah, perusahaan AI membutuhkan jutaan liter air per hari, yang memaksa warga sekitar berbagi pasokan air yang makin menipis.

(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Ramai-Ramai Warga Tolak Data Center, Belum Dibangun Sudah Kena Demo


Most Popular
Features