El Nino Lepas Gelombang Raksasa di Bawah Laut, RI Rasakan Dampaknya
Jakarta, CNBC Indonesia - Fenomena El Niño yang sedang menguat di Samudra Pasifik memicu gelombang raksasa di lautan yang bergerak membawa panas melintasi perairan. Gelombang yang disebut gelombang Kelvin ini tidak berupa ombak yang terlihat di permukaan, melainkan denyut panas di bawah permukaan yang dapat mengubah tinggi muka laut serta pola cuaca di wilayah yang sangat luas, termasuk Indonesia, dikutip dari laporan IFLScience, Rabu (30/9/2026).
Gelombang Kelvin samudra terbentuk ketika angin yang melemah akibat El Niño mendorong air hangat yang terkumpul di bagian barat Pasifik bergerak kembali ke arah timur. Pergerakan ini mengangkat air yang lebih hangat ke permukaan dan menyebarkannya ke ribuan kilometer. Dampaknya bukan hanya dirasakan di pesisir Amerika, melainkan juga memengaruhi keseimbangan suhu dan arus di seluruh kawasan Pasifik.
Di sisi lain, terdapat juga gelombang Kelvin atmosfer yang bergerak di udara. Gelombang jenis ini dapat membuka peluang terbentuknya badai petir hingga siklon tropis di wilayah yang dilaluinya. Kedua jenis gelombang ini sama-sama menjadi perhatian para ahli cuaca karena keduanya mengubah pola yang biasanya terjadi.
Bagi Indonesia, perubahan ini memiliki kaitan yang sangat erat. Gelombang Kelvin samudra yang bergerak dari barat ke timur sebenarnya bermula dari wilayah perairan di sekitar Indonesia.
Ketika El Niño menguat, dorongan angin yang biasanya mendorong air hangat ke arah perairan Indonesia justru melemah, sehingga air hangat itu mengalir kembali ke arah benua Amerika. Hal ini menyebabkan suhu permukaan laut di sekitar Indonesia cenderung lebih dingin dari biasanya, yang selanjutnya mengurangi penguapan dan pembentukan awan hujan. Akibatnya masa kemarau menjadi lebih kering dan berlangsung lebih lama.
Selain itu, gelombang Kelvin atmosfer yang bergerak melintasi khatulistiwa juga dapat memengaruhi pergerakan sistem hujan di atas kepulauan kita. Pola hujan yang biasanya teratur dapat terganggu, sehingga wilayah yang seharusnya mendapat hujan cukup justru mengalami kekeringan, sedangkan daerah lain berisiko menerima hujan lebat dalam waktu singkat.
Di Amerika Serikat, Pemerintah California telah menetapkan keadaan darurat sejak awal September 2026 mengantisipasi kedatangan gelombang Kelvin yang diperkirakan menaikkan permukaan laut beberapa sentimeter di pesisirnya. Kenaikan ini digabungkan dengan pasang tinggi, gelombang besar, dan badai dapat menyebabkan banjir serta pengikisan pantai yang parah.
"Warga California sudah mengambil langkah perlindungan karena kita tahu seberapa serius cuaca ekstrem yang didorong oleh perubahan iklim ini," ujar Sekretaris Sumber Daya Alam California, Wade Crowfoot.
Bagi Indonesia, meskipun gelombang Kelvin samudra bergerak menjauh dari perairan kita, perubahan yang ditimbulkannya terasa nyata. Suhu laut yang lebih dingin di sekitar kepulauan mengurangi pasokan uap air yang menjadi sumber hujan, sehingga curah hujan cenderung di bawah rata-rata dan risiko kekeringan serta kebakaran hutan meningkat.
Di sisi lain, jika El Niño kemudian melemah dan berbalik menjadi La Niña, gelombang Kelvin akan kembali bergerak ke arah barat dan membawa air hangat kembali ke perairan Indonesia, yang dapat memicu hujan lebat dan banjir.
(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]