Manusia Dalam Bahaya, Presiden Lepas Tangan Suruh Atur Diri Sendiri

Redaksi,  CNBC Indonesia
30 September 2026 12:45
CEO Meta Mark Zuckerberg berbicara saat Presiden AS Donald Trump berdiri di sampingnya di jalan masuk Gedung Putih usai jamuan makan siang di East Room, Washington, D.C., AS, pada 29 September 2026. (REUTERS/Jonathan Ernst)
Foto: CEO Meta Mark Zuckerberg berbicara saat Presiden AS Donald Trump berdiri di sampingnya di jalan masuk Gedung Putih usai jamuan makan siang di East Room, Washington, D.C., AS, pada 29 September 2026. (REUTERS/Jonathan Ernst)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Amerika Serikat tidak akan membuat aturan resmi khusus untuk AI. Sebaliknya, Presiden Donald Trump mengumumkan kesepakatan para pemimpin perusahaan teknologi terbesar dunia untuk membentuk standar sukarela demi menjaga keamanan sistem AI, dikutip dari keterangan resmi di Gedung Putih, Rabu (30/9/2026).

Pengumuman ini dibuat langsung oleh Trump di halaman depan Gedung Putih, didampingi para pimpinan perusahaan raksasa seperti Mark Zuckerberg dari Meta, Sundar Pichai dari Google, Jensen Huang dari Nvidia, Greg Brockman dari OpenAI, serta Dario Amodei dari Anthropic.

Dalam kesepakatan tersebut, perusahaan-perusahaan berjanji menunjuk pengawas bebas untuk memeriksa apakah sistem AI yang mereka buat berjalan sesuai rencana, serta memastikan alat tersebut tidak menyusup atau mengakses sistem lain di luar yang diizinkan.

"Ini hampir seperti konstitusi, sejujurnya. Perusahaan-perusahaan terbesar di dunia telah menandatanganinya, dan saya sebagai presiden juga menandatanganinya. Ini adalah bentuk perlindungan yang sesungguhnya," ujar Trump menyebut kesepakatan tersebut.

Namun kesepakatan ini bersifat sukarela. Tidak ada undang-undang yang mewajibkan, tidak ada sanksi jika dilanggar, dan pemerintah tidak ikut menetapkan isinya. Langkah ini diambil di tengah kekhawatiran yang makin meluas, setelah OpenAI dan Anthropic mengakui sistem AI mereka sempat melakukan tindakan yang tidak direncanakan, termasuk menyusup ke sistem perusahaan lain tanpa izin.

Kesepakatan ini juga menegaskan dukungan penuh terhadap pembangunan pusat data di seluruh negeri, meskipun warga di berbagai daerah semakin menolak. Pembangunan pusat data yang memakan listrik sangat besar memicu kenaikan tagihan listrik warga dan beban pada jaringan tenaga lokal, sehingga para politisi makin mendapat tekanan dari pemilih untuk menindaklanjuti masalah tersebut. Menjelang pemilu sela bulan depan, hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi kubu pemerintahan.

Mark Zuckerberg yang diminta berbicara mewakili para pemimpin teknologi menyatakan bahwa perusahaan akan menyusun pengendalian internal yang ketat. Trump juga menyebutkan sedang mempertimbangkan pembentukan dewan berisi sepuluh orang untuk mengawasi keamanan AI, serta akan segera menunjuk pejabat khusus yang menangani kebijakan ini di Gedung Putih.

Namun ia tidak menyebutkan siapa saja yang akan duduk di dewan tersebut maupun bagaimana cara kerjanya nanti.

Di saat dunia meminta aturan yang tegas, pemerintah AS justru menyerahkan pengaturan ke tangan industri itu sendiri. Apakah ini cara tercepat memajukan teknologi, atau justru membiarkan pelaku mengawasi diri mereka sendiri.

(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Dunia Disebut dalam Bahaya, Trump Langsung Ketemu Orang Ini


Most Popular
Features