Proyek Data Center BDX Disetop, Dedi Mulyadi Takut Sedot Air Petani
Jakarta, CNBC Indonesia - Proyek data center BDX di kawasan Jatiluhur disetop sementara. Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyatakan penghentian pembangunan karena sejumlah syarat pembangunan, termasuk AMDAL dan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) masih dalam proses).
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Barat Adi Komar mengatakan Pemprov Jabar pada prinsipnya mendukung investasi dan pembangunan data center tersebut. Namun, dukungan itu tetap harus dibarengi pemenuhan seluruh ketentuan yang berlaku, terlebih proyek tersebut memiliki skala besar.
"Tentunya Pemprov Jabar mendukung pembangunan yang ada. Namun ada beberapa hal yang kita juga concern terhadap kaidah-kaidah dan pemenuhan ketentuan yang berlaku karena ini kan skalanya cukup besar ya," kata Adi seperti dikutip oleh detik Jabar, Selasa (29/9/2026).
Gubernur Dedi Mulyadi dan DPRD Jawa Barat sebelumnya menyoroti kekhawatiran pembangunan data center AI di kawasan Jatiluhur. Mereka buka suara soal kebutuhan air yang akan digunakan dalam proyek itu.
Data center AI milik BDX di Jatiluhur, Purwakarta berada di atas lahan 8.000 meter dengan pengembangan mencapai 11 hektare. Proyek yang memiliki nilai investasi Rp 3,5 triliun akan berkapasitas listrik berdata 120 megawatt (MW) dan kapasitas pengembangan 640 MW.
Dedi Mulyadi mengatakan kebutuhan air pusat data harus dihitung sejak awal dan tidak boleh dibahas setelah beroperasi penuh. Dengan begitu tidak mengganggu alokasi air untuk sektor pertanian setempat.
Menurut penjelasan yang diterimanya, kebutuhan air pusat data itu mencapai 384 liter per detik (LPS) atau 0,4 meter kubik per detik. Konsumsi air berdasarkan kebutuhan itu mencapai 33 ribu meter kubik atau 33 juta liter per hari.
Kebutuhan itu juga tak langsung mencapai angka maksimal, namun pada tahap awal sekitar 6.000 meter kubik per hari. Baru kemudian akan meningkat seiring pengembangan fasilitas.
"Kalau ini kan ngambilnya tetap dari Jatiluhur, tapi masuk di PDAM. Maksudnya ngambil airnya dari Jatiluhur, masuknya ke PDAM, beli airnya dari PDAM," ujar pria yang akrab disapa KDM.
Dia menegaskan mekanismenya harus dibedakan karena terdapat alokasi untuk berbagai penggunaan seperti kebutuhan bagi pertanian. Lebih lanjut, KDM juga mengatakan pembahasan kebutuhan air tidak dilakukan secara asumsi.
"Kita objektif aja. Berapa kebutuhannya?" tegasnya.
Sebagai informasi, pusat data itu juga diproyeksikan akan membuka lapangan kerja hingga 2.000-3.000 orang bertahap. Namun dampak ini, Anggota Komisi V DPRD Jawa Barat, Maulana Yusuf Erwinsyih menilai harus dihitung bersama dengan potensi dampaknya.
Pemerintah diminta untuk membuka perhitungan manfaat dan risiko proyek itu. Termasuk terkait kebutuhan sumber daya yang besar.
"Seharusnya pemerintah membuka ke publik plus-minus data center AI tersebut. Keuntungannya bagaimana dan kerugiannya bagaimana. Banyak hasil riset yang mengungkap dampak dari keberadaan data center AI, mulai dari penggunaan air, potensi bakteri tertentu dalam air buangan, kebisingan, karbon, dan sebagainya," ujarnya.
Dia juga menyoroti kebutuhan industri tidak menggeser kepentingan petani yang bergantung pada sistem irigasi Waduk Jatiluhur.
Sementara itu, Maulana mengatakan lintas komisi DPRD Jabar tidak mengetahui soal proyek itu. Padahal menurutnya pihak DPRD perlu mednapatkan informasi soal berbagai aspek, dari perizinan, AMDAL, hingga mekanisme manfaat proyek untuk masyarakat.
"Saya bertanya ke lintas komisi yang ada di DPRD Jawa Barat, banyak yang tidak tahu. Meskipun katanya ini program pemerintah pusat, setidaknya secara izin, AMDAL, pembangunan, dan alur benefit ada pembahasan di DPRD Jawa Barat. Lagi-lagi gubernur tidak ada koordinasi dengan legislatif," tegasnya.
Terkait koordinasi, dia menegaskan bukan soal administratif saja. Informasi soal potensi dampak harus diketahui sejak rencana pembangunan, jadi bisa menyiapkan mitigasi sebelum operasional berlangsung.
"Apalagi nanti setelah ada pembangunan, efek negatifnya terjadi, tentu pemerintah eksekutif dan legislatif menjadi kambing hitam yang sewaktu-waktu bisa sangat disalahkan akibat pembangunan data center AI ini," pungkasnya.
(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]