Judol Menggila Guncang Pasar Saham, Pemerintah Turun Tangan

Intan Rakhmayanti,  CNBC Indonesia
30 September 2026 07:05
Polymarket
Foto: Polymarket

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar prediksi (prediction market) yang kerap disebut sebagai bentuk lain dari 'judi online' kini mulai berdampak pada perdagangan saham perusahaan Amerika Serikat (AS), seperti Tesla dan Apple. Perkembangan ini memicu kekhawatiran terkait perlindungan investor dan pengawasan pasar.

Pasar prediksi yang dipelopori oleh platform seperti Polymarket dan Kalshi awalnya dikenal sebagai tempat memasang taruhan untuk berbagai hal, mulai dari olahraga, pemilu, hingga operasi militer.

Namun, dalam setahun terakhir, platform tersebut mulai menawarkan puluhan ribu kontrak terkait pergerakan saham, data perusahaan, dan berbagai peristiwa korporasi yang dapat memengaruhi harga saham.

Meski ukurannya masih kecil jika dibandingkan dengan pasar saham yang sebenarnya, pasar prediksi berbasis saham ini menciptakan jalur baru bagi spekulasi terhadap sekuritas AS di luar berbagai aturan perlindungan investor serta mekanisme pengawasan yang berlaku di bursa teregulasi.

Sejumlah pakar hukum memperingatkan bahwa pertumbuhan pesat produk ini berpotensi mengganggu perdagangan saham yang mendasarinya dan menyulitkan para regulator dalam mengawasi pasar.

"Ini adalah batas baru bagi struktur pasar. Ini adalah inovasi dengan steroid," ujar Yesha Yadav, Associate Dean di Vanderbilt University Law School, dikutip dari Reuters, Rabu (30/9/2026). Ia menambahkan bahwa regulator harus segera bertindak untuk menangani produk baru tersebut.

Di sisi lain, Polymarket dan Kalshi menyatakan bahwa mereka memantau potensi pelanggaran, secara rutin melaporkan kasus kepada otoritas AS, serta bekerja sama dengan para regulator.

"Integritas pasar adalah inti dari cara kami beroperasi," kata juru bicara Polymarket. Perusahaan tersebut juga mengklaim berupaya keras untuk memblokir pengguna asal AS dari platform internasional mereka.

Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) menolak untuk memberikan komentar. Sementara itu, Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas AS (Commodity Futures Trading Commission) tidak menanggapi permintaan komentar dari Reuters. Kendati demikian, kedua lembaga tersebut sebelumnya menyatakan sedang meninjau aturan yang berlaku untuk pasar prediksi terkait saham.

Polymarket International meluncurkan pasar untuk saham individu pada Oktober lalu. Berdasarkan analisis yang disiapkan oleh perusahaan riset blockchain Allium, para trader telah memasang taruhan senilai lebih dari US$220 juta pada sekitar 31.000 pasar yang terkait dengan ekuitas hingga awal September.

Hampir 60% dari nilai tersebut ditempatkan pada pasar yang berkaitan dengan pergerakan saham individu, di mana Nvidia, induk perusahaan Google (Alphabet), Apple, dan Tesla menjadi yang paling populer. Sementara sisanya dipertaruhkan pada pasar yang berbasis ETF atau indeks saham, menurut temuan Allium.

Para pedagang biasanya memasang taruhan "ya" atau "tidak" terkait apakah suatu saham atau indeks akan mencapai tingkat harga tertentu pada tanggal yang telah ditentukan.

Satu dompet digital (wallet) yang diidentifikasi oleh Allium bahkan mencatatkan volume transaksi sebesar US$175.000 melalui sekitar 1.300 perdagangan saham Apple.

Meskipun sebagian besar ditujukan bagi nasabah ritel, pasar prediksi kini juga berupaya menarik minat investor institusional dengan memasarkan kontrak peristiwa sebagai cara alternatif untuk melakukan lindung nilai (hedging) terhadap risiko ekonomi dan pasar tradisional.

Berbeda dengan pasar saham konvensional, pasar prediksi memungkinkan investor untuk bertransaksi selama 24 jam penuh dan mengekspresikan berbagai pandangan secara bebas mengenai suatu perusahaan serta kinerja keuangannya.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Raja Judol Perang Melawan Pemerintah, Tak Terima Disebut Bisnis Ilegal


Most Popular
Features