China Tanam Turbin Raksasa di Laut, Sekali Putar Pasok Listrik 9 Hari
Jakarta, CNBC Indonesia - China resmi mengoperasikan proyek tenaga angin lepas pantai dengan turbin berkapasitas 18 megawatt, yang merupakan jenis terbesar yang telah diterapkan secara massal di dunia. Proyek bernama Fanshi di lepas pantai Yangjiang, Provinsi Guangdong, mulai beroperasi sepenuhnya pada 24 September 2026, dikutip dari pengumuman resmi perusahaan energi negara CGN, Selasa (29/9/2026).
Proyek Fanshi terdiri dari dua bagian dengan total kapasitas 2.000 megawatt. Sebanyak 131 turbin dipasang di laut yang 33 unit di antaranya adalah turbin raksasa berdaya 18 megawatt buatan dalam negeri.
Lokasinya berada di selatan Pulau Nanpeng, terjauh 81 kilometer dari garis pantai dengan kedalaman air mencapai 53 meter, menjadikannya salah satu proyek pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) di perairan dalam yang paling ambisius hingga saat ini.
Turbin 18 megawatt ini memiliki dimensi yang luar biasa besar. Diameter baling-balingnya mencapai 292 meter, sehingga luas area yang disapu saat berputar mencapai sekitar 66.000 meter persegi atau setara dengan sembilan lapangan sepak bola standar.
Dalam kondisi berangin kencang, satu kali putaran baling-baling menghasilkan sekitar 43 kilowatt jam listrik. Jumlah itu sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik satu rumah tangga biasa selama 9 hari penuh. Satu turbin saja mampu menghasilkan 56 juta kilowatt jam listrik dalam setahun.
Penerapan turbin yang sangat besar ini mengurangi jumlah unit yang perlu dipasang sekaligus menekan biaya pemasangan kabel bawah laut, fondasi, serta pemeliharaan. Hal ini diperkirakan akan menurunkan biaya produksi listrik dari angin laut secara keseluruhan, sehingga energi bersih dapat diakses dengan harga yang makin terjangkau.
Pemasangan struktur seberat lebih dari 1.500 ton di tengah laut bukan perkara mudah. Gelombang dan angin yang kuat menuntut ketepatan pemasangan hingga tingkat milimeter. Tim pelaksana berhasil menyelesaikan pengangkatan dan pemasangan struktur raksasa tersebut dengan memanfaatkan jendela cuaca yang tenang, sekaligus menyusun metode kerja yang dapat diterapkan pada proyek serupa di masa depan.
Proyek ini juga membangun stasiun penengah tegangan 500 kilovolt yang pertama di antara ladang angin lepas pantai. Fasilitas ini memungkinkan aliran listrik dikirim sejauh puluhan kilometer ke daratan tanpa kehilangan banyak tenaga, mengatasi kendala yang selama ini menghambat pengembangan ladang angin yang jauh dari pantai.
Jika beroperasi penuh, proyek Fanshi akan menyalurkan lebih dari 6,6 miliar kilowatt jam listrik bersih setiap tahunnya. Jumlah itu setara dengan penghematan 1,92 juta ton batu bara serta pengurangan emisi karbon dioksida sebesar 5,1 juta ton per tahun yang dampaknya sama dengan menanam hutan baru seluas 14.000 hektare.
Dengan beroperasinya proyek ini, wilayah Yangjiang kini memiliki kapasitas tenaga angin lepas pantai terbesar di seluruh China, melampaui 8.000 megawatt.
Hu Guangyao, Direktur Utama CGN New Energy, menyatakan bahwa proyek ini membuktikan keandalan peralatan buatan dalam negeri yang berkapasitas besar di lingkungan laut yang menantang. Langkah ini menjadi bagian dari upaya China mencapai target emisi karbon nol bersih serta mempercepat peralihan menuju sistem kelistrikan yang ramah lingkungan, aman, dan efisien,