Pesawat Penyelamat NASA Jatuh ke Bumi

Redaksi,  CNBC Indonesia
29 September 2026 20:30
Pemandangan Bumi yang diambil oleh astronot NASA dan komandan Artemis II, Reid Wiseman, dari salah satu dari empat jendela utama pesawat ruang angkasa Orion.  (NASA/Handout via REUTERS)
Foto: Pemandangan Bumi yang diambil oleh astronot NASA dan komandan Artemis II, Reid Wiseman, dari salah satu dari empat jendela utama pesawat ruang angkasa Orion. (NASA/Handout via REUTERS)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pesawat ruang angkasa buatan swasta yang ditugaskan untuk menyelamatkan teleskop milik NASA jatuh kembali ke Bumi, kurang dari tiga bulan setelah diluncurkan. Misi yang menelan biaya US$ 30 juta ini akhirnya berakhir tanpa berhasil menolong teleskop yang sudah berusia 22 tahun tersebut, dikutip dari laporan ABC News, Senin (28/9/2026).

Pesawat bernama Link buatan perusahaan Katalyst Space Technologies memasuki atmosfer Bumi pada Jumat malam dan hancur terbakar. Misi penyelamatan yang dirancang dengan penuh ambisi ini akhirnya gagal total.

Link diluncurkan pada 3 Juli 2026 dengan tugas mulia: menangkap teleskop Swift milik NASA yang sudah beroperasi sejak tahun 2004, lalu mendorongnya ke orbit yang lebih tinggi agar dapat terus mengamati alam semesta selama beberapa tahun lagi. Teleskop tersebut semakin turun perlahan karena aktivitas matahari yang memanaskan atmosfer Bumi, sehingga tarikan udara semakin menariknya jatuh.

Namun sejak awal perjalanan, masalah muncul. Dua dari tiga roda penggerak yang berfungsi mengarahkan pesawat mengalami kerusakan akibat gangguan sistem kelistrikan.

Kemudian katup yang rusak membuat pesawat berputar cepat dan komunikasi terputus. Meski kendali berhasil dipulihkan, bahan bakar sudah terlalu banyak terpakai sehingga sisa tenaga tidak cukup untuk menyelesaikan tugas. Pada bulan Agustus, misi resmi dibatalkan.

Meskipun gagal menangkap Swift, tim kendali tetap memanfaatkan sisa waktu untuk berlatih. Lengan robotik sepanjang satu meter yang dipasang di Link berhasil digerakkan, dan pesawat sempat mendekat hingga jarak 12-15 kilometer dari teleskop untuk memotretnya.

"Kami tahu sejak awal ini adalah misi yang sangat ambisius dengan jadwal yang ketat," ujar Ghonhee Lee, Direktur Utama Katalyst Space Technologies. "Pengalaman ini menjadi fondasi yang akan kami bangun untuk tugas penyelamatan satelit di masa depan."

Pihak NASA juga menyatakan bahwa upaya ini tetap berguna sebagai latihan berharga untuk misi penyelamatan satelit mendatang. Shawn Domagal-Goldman dari NASA mengatakan, "Kami berlatih bergerak secepat mungkin, dan pengalaman ini akan sangat berguna."

Dengan berakhirnya misi Link, nasib Swift pun ditentukan. Teleskop ini diperkirakan akan jatuh kembali ke Bumi pada awal November 2026. Selama sisa waktunya, Swift kembali melakukan pengamatan seperti biasa.

Selama lebih dari 20 tahun, Swift telah menjadi mata utama dunia dalam memantau ledakan sinar gamma, bintang yang meledak, serta peristiwa kosmik mendadak lainnya. Ia menjadi "penjaga" yang memberi tahu teleskop lain ke mana harus mengarahkan pandangan. Setelah ia hilang, NASA harus mencari cara mengisi kekosongan tersebut.

Artinya, misi ini mungkin gagal menyelamatkan satu teleskop, tetapi telah membuktikan sesuatu yang lain: penyelamatan satelit di angkasa bukan hal yang mustahil, hanya saja teknologinya masih harus terus ditempa sebelum benar-benar siap.

(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Rahasia Pesawat Terbaru NASA Terbang Senyap Lebih Cepat dari Suara


Most Popular
Features