China Tanam Pohon Saking Banyaknya, Satu Negara Berubah Total
Jakarta, CNBC Indonesia - Obsesi besar-besaran pemerintah China dalam merestorasi alam lewat ambisi hijau berskala masif membawa dua dampak sekaligus. Di satu sisi, megaproyek itu berhasil menyulap lahan tandus menjadi subur dan hijau.
Namun, sebuah studi ilmiah justru membongkar sisi gelap yang patut menjadi perhatian. Megaproyek lingkungan tersebut memicu pergeseran ekstrem siklus air dan berpotensi melahirkan krisis air bersih nasional.
Selama puluhan tahun, Negeri Tirai Bambu memang dikenal gemar menggelar program penghijauan kolosal. Sebut saja proyek Great Green Wall yang digulirkan sejak 1978 dan sukses mendongkrak tutupan hutan nasional hingga melampaui 25%.
Tak hanya itu, program lanjutan seperti Grain for Green dan Natural Forest Protection secara agresif memaksa konversi lahan pertanian produktif menjadi kawasan hutan serta menyetop total aktivitas penebangan liar.
Namun, studi yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Earth's Future membeberkan fakta mengejutkan di balik gemerlapnya ambisi hijau tersebut. Proyek-proyek penghijauan raksasa itu terbukti mengubah distribusi air tawar secara drastis di seluruh penjuru negeri.
Korbankan Wilayah Padat Penduduk Demi Kehijauan
Berdasarkan analisis data resolusi tinggi terkait perubahan penggunaan lahan, presipitasi, dan evapotranspirasi (proses penguapan air dari tanah serta transpirasi tanaman) sepanjang kurun waktu 2001 hingga 2020, para peneliti menemukan adanya anomali besar.
Masifnya perluasan tutupan vegetasi justru terbukti mengurangi ketersediaan air bersih di wilayah monsun timur dan kawasan kering barat laut. Padahal, dua wilayah strategis ini mencakup hingga 74% total daratan China, yang sekaligus menjadi pusat populasi penduduk, pusat perekonomian, serta kawasan lumbung pangan nasional.
Sebaliknya, lonjakan ketersediaan air justru terkonsentrasi di wilayah Dataran Tinggi Tibet, dipicu oleh peningkatan proses penguapan akibat masifnya penanaman hutan dan pemulihan padang rumput.
"China telah melakukan penghijauan kembali dalam skala masif selama beberapa dekade terakhir. Mereka secara aktif memulihkan ekosistem yang kembali berkembang, khususnya di Dataran Tinggi Loess. Hal ini juga mengaktifkan kembali siklus air," jelas Arie Staal, salah satu penulis studi, dikutip dari Live Science.
Air Banyak yang Menguap Hilang ke Atmosfer
Kendati siklus air menjadi jauh lebih aktif, para periset mendapati bahwa tingkat evapotranspirasi melonjak jauh melampaui curah hujan (presipitasi). Artinya, sebagian besar pasokan air justru hilang terserap dan menguap ke atmosfer alih-alih mengalir mengisi cadangan air tanah.
Ironisnya lagi, tren hilangnya air ini tidak merata akibat pergerakan massa angin yang mampu membawa uap air hingga ribuan kilometer dari titik asalnya. Akibatnya, wilayah-wilayah di luar Dataran Tinggi Tibet harus menanggung beban penurunan drastis pasokan air bersih.
Kondisi ini memperparah ketimpangan struktural air di China. Saat ini, wilayah yang menampung 46% populasi dan 60% lahan produktif negara tersebut praktis hanya memiliki pasokan 20% dari total ketersediaan air yang ada.
Meski pemerintah setempat berupaya memutar otak mengatasi masalah ini, para ahli memperingatkan bahwa berbagai kebijakan redistribusi air nasional berpotensi besar menemui jalan buntu. Pasalnya, dampak perubahan siklus hidrologi akibat ambisi hijau raksasa tersebut selama ini luput dari kalkulasi matang.
(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]