Bocah Ajaib Usia 13 Tahun Disebut Penerus Elon Musk, Ini Sosoknya

Novina Putri Bestari,  CNBC Indonesia
28 September 2026 16:55
Yang Xizhe. (Ist Tangkapan Layar)
Foto: Yang Xizhe. (Ist Tangkapan Layar)

Jakarta, CNBC Indonesia - Dunia maya di China tengah dihebohkan oleh kemunculan seorang remaja berbakat yang digadang-gadang sebagai calon pemimpin teknologi masa depan. Bernama Yang Xizhe, bocah berusia 13 tahun asal Hangzhou ini mendadak viral berkat kepiawaiannya yang luar biasa di bidang kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/ AI), hingga mendapat julukan sebagai "Elon Musk masa depan".

Xizhe dengan bangga menyebut dirinya sebagai bagian dari "generasi asli AI" (AI native generation), yang memandang teknologi canggih tersebut sama esensialnya dengan udara dan air bagi kehidupan sehari-hari. Berkat bakatnya yang memukau, akun media sosial pribadinya kini telah dibanjiri lebih dari 500 ribu pengikut.

Nama Xizhe mulai melambung secara global pada Februari tahun lalu, tatkala ia merilis konten video kreatif tentang pemanfaatan AI untuk menghafal kosakata bahasa Inggris. Tak disangka, video tersebut meledak di dunia maya dan meraup hingga 20 juta penayangan.

Dalam praktiknya, Xizhe mengunggah daftar kosakata ke platform Doubao, lalu meracik perintah (prompt) khusus untuk memandu chatbot merangkai cerita menarik sekaligus merancang latihan mandiri yang dipersonalisasi berdasarkan kata-kata tersebut.

Metode belajar inovatif ini langsung menuai banjir pujian. Sejumlah orang tua mengaku terinspirasi karena metode tersebut mampu membangkitkan minat belajar anak-anak dengan cara yang menyenangkan. Bahkan, seorang guru menyatakan minatnya untuk mengadopsi pendekatan kreatif tersebut ke dalam kurikulum kelas, sebagaimana dilansir dari South China Morning Post, Senin (28/9/2026).

Juara Hackathon dan Ciptakan Alat Bantu Tunanetra

Kepiawaian remaja ini bukan sekadar isapan jempol. Xizhe tercatat aktif mengikuti berbagai kompetisi pemrograman bergengsi (hackathon) untuk merancang proyek perangkat lunak (software) yang berdampak nyata.

Pada proyek pertamanya di ajang Moonshot 48 Hackathon, ia langsung keluar sebagai juara berkat inovasi sistem penglihatan berbasis AI yang dirancang khusus untuk membantu para penyandang tunanetra merias wajah mereka secara mandiri.

Menariknya, bakat luar biasa ini lahir dari keluarga biasa. Berdasarkan laporan Dushi Express, kedua orang tua Xizhe sama sekali tidak memiliki latar belakang pendidikan formal di bidang teknologi. Namun, demi mendukung hobi sang anak, mereka dengan gigih ikut belajar mendalami dunia digital agar bisa terus membersamai proses tumbuh kembang putranya.

Menatap masa depan, Xizhe telah mematok cita-cita yang lurus dengan bidang yang dicintainya: menjadi seorang programmer atau periset AI handal.

"Jika memungkinkan, saya harap bisa membuat perbedaan, meski kecil, di dunia," ungkap Xizhe penuh optimisme.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Artificial General Intelligence Sudah Tiba, AI yang Secerdas Manusia


Most Popular
Features