Dunia Ramai-Ramai Pilih China, Amerika Sudah Ditinggalkan

Redaksi,  CNBC Indonesia
28 September 2026 16:15
US President Donald Trump looks at Chinese President Xi Jinping as Xi walks to the podium during a state dinner at the White House in Washington, D.C., US, September 24, 2026. REUTERS/Evelyn Hockstein
Foto: REUTERS/Evelyn Hockstein
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Dominasi Amerika Serikat (AS) di kancah kecerdasan buatan (Artificial Intelligence /AI) sedang diuji. Di tengah ketatnya persaingan global yang turut dibahas oleh Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pekan ini, sebuah fenomena mengejutkan terjadi: perusahaan-perusahaan di berbagai belahan dunia kini berbondong-bondong meninggalkan model AI barat dan beralih massal menggunakan teknologi AI buatan China.

Berdasarkan data penggunaan eksklusif yang dibagikan kepada CNBC, adopsi model AI asal Negeri Tirai Bambu mengalami lonjakan yang tidak masuk akal sepanjang tahun 2026 ini.

Model-model AI buatan perusahaan teknologi China seperti DeepSeek, Z.ai, dan Alibaba, yang terkenal sangat jago dalam urusan coding dan pemrograman, kini resmi merajai platform pengembang global.

Data dari dua platform gerbang utama pengembang (developer gateway) membuktikan masifnya migrasi massal ini:

  • Di OpenRouter, pangsa token yang dikonsumsi oleh model-model China meroket tajam ke angka 57% hingga 67% pada pekan 14 September lalu. Padahal, pada Februari lalu angkanya masih berkisar di angka 6% hingga 13%.

  • Di Vercel, pangsa penggunaan model AI China ikut melambung hingga 55% pada Agustus, naik drastis dari posisi 11% di bulan Januari.

Faktor "Murah & Gacor" Jadi Alasan Utama

Lonjakan migrasi global ini bukan tanpa sebab. Di saat laboratorium AI Amerika mematok harga tinggi, perusahaan-perusahaan China menawarkan alternatif yang jauh lebih hemat biaya dengan performa yang tidak kalah garang.

Peter Walker, Kepala Wawasan di OpenRouter, mengungkapkan bahwa model open-source buatan China yang dirilis tahun ini mampu bekerja sangat kredibel untuk tugas agen tingkat lanjut, khususnya coding.

"Mereka juga sangat hemat biaya dibandingkan dengan sebagian besar model buatan laboratorium asal Amerika," tegas Walker.

Hal senada juga diungkapkan oleh Harpreet Arora, Kepala Infrastruktur Agen di Vercel. Menurutnya, pelaku bisnis di seluruh dunia kini lebih pragmatis dalam memilih teknologi.

"Model-model China kini sudah cukup mumpuni untuk mengerjakan lebih banyak tugas dengan biaya yang jauh lebih murah. Begitu sebuah model memenuhi standar kualitas pekerjaan, perbedaan harga yang mencolok itu menjadi sangat menarik," jelas Arora.

Menjamur dari Lagos hingga Jakarta

Fenomena "hijrah" ke AI China ini paling masif terjadi di wilayah yang dikategorikan sebagai Global South-mencakup puluhan negara di Asia, Amerika Latin, dan Afrika. Lebih dari dua pertiga (67%) token yang digunakan oleh korporasi di wilayah-wilayah ini kini disokong oleh model AI China.

Daniel Remler, peneliti senior dari lembaga riset Center for a New American Security (CNAS), menilai ekspansi ini berpotensi mengubah peta pengaruh geopolitik global secara permanen.

"Asia Tenggara khususnya mungkin akan melihat adopsi model AI China yang sangat signifikan, mengingat adanya keterkaitan ekonomi dan budaya yang erat [dengan China] serta infrastruktur digital yang terus berkembang," ujar Remler.

"Di mana pun itu, mulai dari Lagos, São Paulo, hingga Jakarta, para wirausahawan dan pemerintah yang mencari model terbuka yang murah akan melirik AI China sebagai pilihan pertama mereka."

Washington Ketar-Ketir

Masifnya adopsi global ini tentu membuat para pejabat di Washington kebakaran jenggot. Dua Komite DPR AS kini tengah turun tangan menyelidiki bagaimana perusahaan China tetap bisa melesat meski gerak-gerik mereka telah dijegal lewat pembatasan ketat ekspor cip canggih Nvidia.

Pemerintah AS khawatir, semakin banyak dunia internasional yang bergantung pada kecerdasan buatan China, semakin kuat pula cengkeraman poros geopolitik Beijing di panggung global.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Produk China Ramai Diserbu Perusahaan AS, Begini Respons Xi Jinping


Most Popular
Features