Tren Baru di China, Tolak Pelajaran Bahasa Inggris di Sekolah

Novina Putri Bestari,  CNBC Indonesia
28 September 2026 10:45
Chinese children to sit ups outside their school building on the Shamian Island, formerly the foreign district of Canton in 1979. (AP Photo/Neal Ulevich)
Foto: AP/Neal Ulevich

Jakarta, CNBC Indonesia - Seorang guru matematika asal China bernama Tang Jiafeng mempertanyakan kebutuhan bahasa Inggris di sekolah. Menurutnya anak-anak di sekolah dipaksa mempelajari bahasa asing saat belum menguasai bahasa lokal Mandarin.

Bahkan Tang juga menekankan untuk menghentikan pemujaan buta pada impor asing, dikutip dari Times of India, Senin (21/9/2026).

Dengan cepat, banyak masyarakat yang mengomentari topik ini. Sejumlah orang tua dan guru ada yang mendukung ucapan Tang dan mengatakan kurikulum dengan tata bahasa dan berorientasi ujian jarang menghasilkan penutur bahasa Inggris yang fasih.

Kepala Institut Penelitian Pendidikan Abad 21 Shenzhen, Xioang Bingqi juga mengungkapkan sistem itu menciptakan bahasa Inggris yang bodoh. Kelompok orang yang menggunakan bahasa Inggris di tempat kerja disebutnya sebagai minoritas.

Topik ini hadir saat menjamurnya teknologi terjemahan AI secara riil-time di tengah masyarakat China. Kehadiran itu membuat kampus riset di Shenzhen menghapus kursus bahasa Inggris secara bertahap.

Tak hanya kursus, ujian akhir bahasa Inggris untuk anak sekolah dasar telah dihapus di Shanghai sejak 2021.

Guru bahasa Inggris di Guandong, Cinderella Huang mengatakan penghapusan mata pelajaran itu bakal memperlebar kesenjangan kekayaan. Dia merujuk pada model AI yang masih membutuhkan bahasa Inggris.

Bahkan menurutnya, bahasa Inggris di sekolah masih akan tersedia. Termasuk keluarga kaya bakal terus membayar tutor pengajar dan memasukkan anaknya ke sekolah internasional.

(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Merinding, Pesona Gelap Gerhana Matahari di Penjuru Dunia


Most Popular
Features