Data Center AI Haus Air, 1 MW Sedot Air Kebutuhan 1 Kota
Jakarta, CNBC Indonesia - Perkembangan kecerdasan buatan (AI) ternyata tidak hanya membutuhkan energi dalam jumlah besar. Teknologi ini juga menuntut konsumsi air yang tinggi untuk mendinginkan pusat data atau data center yang menjalankan berbagai model AI.
World Economic Forum (WEF) mengungkapkan, data center berkapasitas 1 megawatt (MW) dapat menghabiskan hingga 25,5 juta liter air per tahun hanya untuk kebutuhan pendinginan. Jumlah tersebut setara dengan konsumsi air harian sekitar 300.000 orang.
Konsumsi air semacam ini memperparah tekanan terhadap ketersediaan air, terutama di wilayah rentan yang sudah menghadapi masalah kelangkaan air.
Data center membutuhkan air untuk berbagai sistem pendingin, seperti chiller, cooling tower, hingga liquid cooling. Konsumsi air juga terjadi secara tidak langsung melalui pembangkit listrik yang menggunakan proses intensif air, termasuk untuk menghasilkan uap.
WEF menyebut data center berukuran menengah dengan kapasitas 15 MW dapat mengonsumsi air dalam setahun setara dengan kebutuhan tahunan tiga rumah sakit berukuran rata-rata atau lebih dari dua lapangan golf dengan 18 lubang.
Besarnya konsumsi air salah satunya disebabkan terbatasnya penggunaan kembali air dalam sistem pendinginan. Sebagian air tawar menguap selama proses pendinginan, sementara sisanya berubah menjadi air limbah yang dapat tercemar debu, bahan kimia, dan mineral.
Kondisi tersebut membuat air limbah tidak selalu dapat langsung digunakan kembali karena bisa menurunkan efisiensi sistem pendinginan.
Pertumbuhan AI turut memperbesar persoalan ini. Model AI seperti GPT-3 dan GPT-4 membutuhkan daya komputasi sangat besar, yang kemudian meningkatkan kebutuhan energi dan air untuk menjaga mesin tetap dingin.
WEF memperkirakan GPT-3 membutuhkan sekitar 500 mililiter air untuk setiap 10-50 respons. Jika dikalikan dengan miliaran penggunaan, jejak air AI dapat menjadi sangat besar.
WEF juga memperkirakan permintaan AI global pada 2027 dapat menyebabkan pengambilan air mencapai 1,1-1,7 triliun galon atau sekitar 4,2-6,6 miliar meter kubik. Angka tersebut lebih dari 4-6 kali total pengambilan air tahunan Denmark.
Menurut WEF, konsumsi air data center selama ini masih sering luput dibandingkan emisi karbon. Karena itu, pengelolaan air secara sirkular, termasuk optimalisasi dan penggantian kembali sumber air, menjadi salah satu peluang untuk menekan dampak lingkungan industri data center.
Untuk memitigasi dampak lingkungan dan sosial yang lebih luas akibat keberadaan pusat data, para operator dapat mulai mengadopsi solusi air sirkular yang inovatif.
Solusi ini melibatkan penggunaan kembali dan daur ulang air guna menciptakan sistem pengelolaan air yang berkelanjutan dan efisien.
Praktik-praktik seperti sistem pendingin yang melibatkan daur ulang air limbah atau pemanenan air hujan telah terbukti secara signifikan mengurangi penggunaan air tawar, dengan potensi penghematan sebesar 50-70% di lokasi penerapannya.
Integrasi prinsip pengelolaan air sirkular merupakan langkah krusial untuk memastikan pusat data tetap mampu mendukung gelombang kemajuan teknologi berikutnya di tengah dunia yang kian haus akan sumber daya air.
(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]