CNBC Insight

Gempa Terasa Seperti Truk Lewat, Tak Sangka Bawa Tsunami 21 Meter

MFakhriansyah,  CNBC Indonesia
27 September 2026 16:30
Tragedi Tsunami 2006 di Pangandaran Jawa Barat. (Istimewa)
Foto: (Istimewa)

 

Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa lalu lewat relevansinya di masa kini.

Jakarta, CNBC Indonesia - Bencana gempa dan tsunami Pangandaran yang menerjang kawasan pesisir selatan Jawa pada dua dekade silam menjadi salah satu tonggak paling krusial dalam sejarah penguatan mitigasi bencana di Indonesia. Tragedi tersebut tidak hanya memaksa pemerintah membenahi sistem peringatan dini, tetapi juga meningkatkan kesadaran publik akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi ancaman megathrust.

Berdasarkan catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa bermagnitudo M7,7 mengguncang Pangandaran pada 17 Juli 2006 pukul 15.19 WIB. Guncangan tersebut memicu gelombang tsunami setinggi 4 hingga 8 meter yang menyapu sepanjang 250 kilometer garis pantai selatan Jawa, mulai dari Pangandaran, Jawa Tengah bagian selatan, hingga pesisir Yogyakarta.

Musibah besar ini merenggut 668 korban jiwa serta menghancurkan ribuan rumah warga, menjadikannya salah satu bencana paling mematikan di Indonesia pascatsunami Aceh 2004.

Berikut adalah 7 catatan penting dari para pakar terkait tragedi tsunami Pangandaran:

1. Salah Satu Tsunami Terbesar di Jawa dan Fenomena Tsunami Earthquake

Ahli Seismologi Direktorat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Pepen Supendi, mengungkapkan bahwa tsunami Pangandaran merupakan gelombang terbesar yang pernah menghantam Pulau Jawa setelah gempa dan tsunami Banyuwangi pada 1994.

Peristiwa ini juga menjadi salah satu contoh paling nyata dari fenomena tsunami earthquake (gempa tsunami), yang sekaligus merevolusi pemahaman para ilmuwan mengenai mekanisme pembangkitan gelombang dahsyat. Tragedi ini turut menjadi katalisator percepatan pembangunan sistem Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS) yang diresmikan pada 11 November 2008.

2. Guncangan Lemah tapi Mematikan

Pepen menjelaskan, karakteristik tsunami earthquake memiliki proses patahan (rupture) yang sangat lambat sehingga memancarkan energi berfrekuensi rendah. Akibatnya, guncangan yang dirasakan warga di Pangandaran saat itu relatif lemah, yakni sekitar 3-4 MMI (hanya terasa seperti truk melintas).

Kondisi ini membuat banyak warga terkecoh dan mengira gempa tersebut tidak berbahaya, padahal satu jam kemudian tsunami datang menerjang. Ia mengimbau masyarakat pesisir agar tidak menunggu sirine peringatan dini jika merasakan gempa berdurasi lama meskipun guncangannya lemah.

3. Misteri Tsunami Setinggi 21 Meter di Nusa Kambangan

Observasi lapangan menunjukkan tinggi gelombang di sebagian besar pantai selatan Jawa berkisar antara 5 hingga 10 meter. Namun, di kawasan Nusa Kambangan, ketinggian tsunami melonjak drastis hingga mencapai 21 meter.

Para peneliti menduga anomali ini tidak sekadar disebabkan oleh patahan di zona megathrust, melainkan dipicu oleh faktor sekunder seperti longsoran bawah laut lokal (submarine landslide) serta kontribusi splay fault.

4. Ancaman Nyata di Selatan Jawa Masih Mengintai

Pusat Studi Gempa Nasional telah mengidentifikasi dua segmen megathrust di selatan Jawa, yakni segmen Jawa Barat dan Jawa Timur. Berdasarkan skenario terburuk, kedua segmen tersebut berpotensi mengalami patahan secara bersamaan. Pepen mengingatkan bahwa gempa dengan magnitudo 7,7 saja sudah terbukti mampu meluluhlantakkan wilayah pesisir, sehingga aspek mitigasi mutlak untuk terus disiagakan.

5. Ketangguhan Industri Pariwisata Masih Rendah

Guru Besar Institut Teknologi Sumatera (ITERA), Harkunti Pertiwi Rahayu, menyoroti bahwa sektor pariwisata Pangandaran sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional ternyata masih sangat rentan. Berdasarkan kajian akademisnya, tingkat ketangguhan (overall resilience) industri pariwisata di kawasan tersebut masih berada di angka 33,51%, sehingga membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk pulih pascabencana.

6. Standarisasi Rambu Evakuasi yang Belum Seragam

Harkunti juga mengkritisi masih beragamnya desain rambu-rambu evakuasi tsunami di lapangan akibat sisa program dari berbagai donor yang berbeda. Meskipun BNPB telah menetapkan standar nasional, implementasi yang tidak seragam berpotensi membingungkan warga maupun wisatawan saat proses evakuasi darurat.

7. Kecepatan Peringatan Dini Kini Jauh Lebih Cepat

Di sisi lain, Ketua Tim Kerja Informasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Weniza, memastikan bahwa sistem peringatan dini nasional kini jauh lebih andal. Berkat penguatan jaringan teknologi seperti seismograf dan tide gauge, BMKG kini mampu menyebarkan informasi gempa dan peringatan dini tsunami dalam waktu 3 hingga 5 menit saja, jauh lebih cepat dibandingkan masa lalu.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Joko Widodo Pimpin Tim Riset BRIN, Gandeng Jepang Garap Proyek Ini


Most Popular
Features