Ikan Nila Bawa Petaka Besar, Kondisinya Sudah Darurat di Dekat RI
Jakarta, CNBC Indonesia - Populasi ikan nila hitam (blackchin tilapia) meledak secara masif di berbagai wilayah Thailand. Spesies ikan invasif asal Afrika Barat ini diketahui memangsa udang, kepiting, serta berbagai ikan asli setempat, sehingga memicu kerusakan parah pada ekosistem perairan sekaligus menghancurkan mata pencaharian para nelayan lokal.
Berdasarkan catatan sejarah, ikan ini pertama kali dilaporkan menyebar di Negeri Gajah Putih pada tahun 2011 silam, tepatnya di Provinsi Samut Songkhram. Seiring berjalannya waktu, sebarannya kian tak terkendali dan meluas ke setidaknya 19 provinsi, termasuk mencakup jaringan kanal di ibu kota Bangkok hingga perairan pesisir pariwisata Pattaya.
Dampak paling nyata dari ledakan populasi ini dirasakan langsung oleh para petambak udang. Wallop Khunjaen, seorang nelayan lokal, terpaksa menggantungkan pekerjaannya dan menghentikan usaha tambak setelah ikan nila hitam melahap hampir seluruh dari 1 juta benih udang miliknya dalam kurun waktu sekitar dua bulan saja.
"Mereka memakan semuanya. Mereka memakan udang, bahkan mereka juga memakan kepiting," ungkap Wallop, dikutip dari The Guardian, Minggu (27/9/2026).
Kehadiran predator rakus ini juga membuat keanekaragaman hayati lokal merosot drastis. Wallop mengaku sudah sangat kesulitan menemukan spesies ikan asli, bahkan ia tidak lagi melihat keberadaan kepiting biola di habitat alaminya.
Upaya Pembasmian Dinilai Terlambat
Pemerintah Thailand sebenarnya tidak tinggal diam dan telah mengerahkan berbagai strategi penanggulangan. Mulai dari menebar ikan kakap putih sebagai predator alami, membiakkan ikan nila hitam mandul, hingga menggelar program sayembara dengan membayar masyarakat untuk menangkapnya. Hasilnya, ribuan ton ikan berhasil diangkat dari perairan.
Kendati demikian, para ahli pesimis langkah tersebut mampu membalikkan keadaan. Thotsapol Chaianunporn, seorang dosen ilmu lingkungan dari Khon Kaen University, menilai upaya pemberantasan sudah terlambat karena ikan nila hitam memiliki laju reproduksi yang sangat cepat serta tingkat kelangsungan hidup anakan yang tinggi.
"Kita sudah jauh melewati titik di mana kita bisa kembali," tegas Thotsapol.
Keluasan adaptasi ikan ini yang mampu bertahan hidup di perairan tawar maupun payau membuat populasi mereka cepat pulih meski telah dibasmi. Menurut Thotsapol, solusi yang lebih realistis saat ini adalah mengubah ancaman tersebut menjadi peluang ekonomi, misalnya dengan mengolahnya menjadi bahan baku pakan ternak atau produk olahan pangan.
Namun, ide pemanfaatan ini menemui jalan buntu. Para nelayan mengeluhkan volume ikan yang telanjur membludak justru membuat biaya pengolahannya menjadi tidak ekonomis.
Di sisi lain, para ilmuwan memperingatkan bahwa dampak ekologis jangka panjang dari invasi ini belum sepenuhnya terpetakan. Selain merusak rantai makanan dengan memangsa zooplankton, ikan ini juga kerap mengaduk-aduk dasar perairan yang memperkeruh ekosistem.
Sengketa Hukum dan Ancaman Lintas Batas
Hingga kini, asal-usul masuknya ikan nila hitam ke Thailand masih menjadi sengketa hukum yang pelik. Kalangan nelayan melayangkan gugatan terhadap raksasa agribisnis Charoen Pokphand Foods Plc (CPF), dengan menuduh perusahaan tersebut sebagai pihak yang memperkenalkan spesies asing itu ke perairan lokal.
Pihak perusahaan tak menampik pernah mengimpor 2.000 ekor ikan nila hitam untuk keperluan riset pembiakan pada 2010. Namun, mereka dengan tegas membantah menjadi sumber invasi dan mengklaim seluruh sampel ikan saat itu telah dimusnahkan.
Kini, kecemasan terbesar Thailand bukan lagi sekadar kerugian ekonomi dan rusaknya ekosistem domestik, melainkan potensi migrasi ikan invasif tersebut ke negara-negara tetangga di kawasan regional.
"Ini adalah ancaman yang diam-diam," ujar Thanandon, salah satu warga setempat. "Anda tidak menyadarinya sampai ikan itu sudah ada di sana."
(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]