Internasional

Proyek Data Center Raksasa Kebanggaan Presiden Terancam Gagal

Intan Rakhmayanti,  CNBC Indonesia
25 September 2026 17:20
Oracle
Foto: REUTERS/Robert Galbraith

Jakarta, CNBC Indonesia - Proyek pusat data (data center) raksasa milik Oracle di New Mexico, Amerika Serikat (AS), tengah menghadapi sejumlah kendala serius. Perusahaan bahkan dikabarkan telah mengirimkan pemberitahuan force majeure terkait proyek ambisius tersebut, yang menjadi bagian dari pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (Artificial Intelligence / AI) bertajuk Stargate di bawah pemerintahan Presiden AS Donald Trump.

Kabar kurang sedap ini langsung memukul pergerakan saham Oracle di lantai bursa. Tercatat, saham perusahaan teknologi tersebut merosot lebih dari 3% pada perdagangan Kamis (24/9) waktu setempat.

Oracle disebut-sebut berupaya meminta penundaan pembayaran untuk proyek yang dinamai Project Jupiter ini, apabila fasilitas tersebut nantinya gagal beroperasi sesuai jadwal yang ditetapkan pada tahun 2028 mendatang.

Kendati demikian, pihak Oracle tetap berupaya meredam kekhawatiran publik. "Project Jupiter tetap sesuai dengan jadwal yang telah kami rencanakan. Kami sepenuhnya berkomitmen pada New Mexico dan yakin dengan langkah kami ke depan," tulis Oracle dalam pernyataan resminya, dikutip dari CNBC International, Jumat (25/9/2026).

Nada serupa juga disampaikan oleh mitra pembiayaan mereka, Blue Owl Capital. Perusahaan investasi tersebut menegaskan bahwa pemberitahuan force majeure tidak akan mengubah komitmen pendanaan mereka. "Pemberitahuan ini tidak mengubah komitmen keuangan terhadap proyek multi-tahun ini," ujar pihak Blue Owl.

Sekadar informasi, Project Jupiter merupakan fasilitas data center raksasa dengan kapasitas jumbo mencapai lebih dari 2,4 gigawatt. Namun, pembangunannya tidak berjalan mulus karena terbentur berbagai hambatan, mulai dari masalah regulasi, penolakan keras dari warga setempat, hingga protes dari kelompok-kelompok pencinta lingkungan.

Proyek ini juga semakin pelik akibat kendala dalam pembangunan jaringan pipa gas alam yang krusial untuk menyuplai kebutuhan energi masif ke fasilitas tersebut. Gelombang penolakan terhadap masifnya pembangunan data center ini bahkan mulai menjadi isu hangat yang diperhatikan menjelang pemilu sela AS (midterm elections).

Sementara itu, Bloom Energy-perusahaan yang digandeng untuk memasok listrik ke fasilitas tersebut menggunakan teknologi sel bahan bakar (fuel cell)-juga terkena imbas dengan penurunan harga saham sekitar 3%. Meski demikian, manajemen Bloom Energy memastikan pihaknya tetap berkomitmen penuh terhadap kontrak dan jadwal proyek yang telah disepakati.

Di sisi lain, CEO Oracle Clay Magouyrk sempat menyampaikan dalam laporan kinerja perusahaan pada 10 September lalu bahwa Project Jupiter tidak akan berdampak negatif terhadap proyeksi pendapatan maupun laba Oracle untuk tahun fiskal 2027.

Namun, proyek ini tetap dalam sorotan tajam pasar keuangan terkait beban utangnya. Oracle diketahui menanggung utang sekitar US$ 18 miliar yang berkaitan langsung dengan pembangunan data center tersebut. Berdasarkan laporan Financial Times, obligasi utang tersebut kini diperdagangkan pada level harga yang mencerminkan meningkatnya tekanan terhadap pembiayaan proyek.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Geger Data Center Raksasa Telan Anggaran Sampai Rp 18.000 Triliun


Most Popular
Features