AS Makin Takut Dikejar China, Pertemuan Besar di Jakarta Jadi Sorotan

Redaksi,  CNBC Indonesia
25 September 2026 08:15
US President Donald Trump and Chinese President Xi Jinping react as Xi arrives ahead of a state visit at Joint Base Andrews, Maryland, US, September 23, 2026. REUTERS/Jonathan Ernst
Foto: REUTERS/Jonathan Ernst
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah persaingan teknologi AI antara Amerika Serikat dan China yang makin panas, pemerintah Indonesia dan AS pekan lalu menggelar pertemuan tingkat tinggi bernama Indonesia Strategic Trade Management (IDSTM) Summit 2026 di Jakarta. Salah satu topik dalam konferensi tersebut adalah rantai pasok chip semikonduktor dan AI.

Pertemuan sekitar 300 pemangku kepentingan dari negara-negara Asean ini digelar di tengah gelombang penindakan yang makin gencar di seluruh kawasan terkait penyelundupan chip AI, yang perdagangannya diatur ketat oleh pemerintah AS. Dalam beberapa bulan terakhir, otoritas di berbagai negara telah menangkap pengiriman chip canggih yang diselundupkan, namun para ahli memperingatkan bahwa upaya ini belum cukup untuk menutup sepenuhnya jalur yang dimanfaatkan.

Serangkaian operasi penegakan hukum telah berlangsung di beberapa negara Asia Tenggara dan sekitarnya. Di Malaysia, Bea Cukai menyita chip AI senilai RM52,9 juta atau sekitar Rp 250 miliar di Bandara Internasional Kuala Lumpur pada bulan Juni 2026. Sebanyak 72 unit server yang berisi chip canggih dinyatakan secara palsu sebagai "komponen komputer" dan direncanakan akan dikirim ulang ke negara lain di Asia tanpa izin.

Pemerintah Malaysia telah menerapkan pengendalian ekspor atas chip berteknologi tinggi asal Amerika Serikat sejak tahun 2025.

Di Singapura, kepolisian menyita rumah mewah senilai S$55 juta atau sekitar Rp 825 miliar yang diduga dibeli menggunakan hasil penyelundupan chip Nvidia. Kasus ini menimpa direktur sebuah perusahaan teknologi yang diduga mengirimkan server berisi chip yang dibatasi ekspornya ke tujuan yang tidak diizinkan. Selain properti, rekening bank senilai S$1 juta juga dibekukan, dan empat orang telah didakwa sejak Februari 2025.

Di Thailand, penyelidikan menunjuk sebuah perusahaan berbasis di Bangkok diduga membantu menyalurkan chip Nvidia senilai miliaran dolar ke perusahaan di China, termasuk Alibaba. Skema ini melibatkan pendiri perusahaan server asal Amerika Serikat yang bekerja sama dengan perantara di Asia Tenggara untuk mengalihkan perangkat tersebut melanggar aturan perdagangan.

Di Taiwan, jaksa menindak delapan orang yang meliputi manajer dari kantor cabang Nvidia dan Supermicro. Mereka diduga menyembunyikan tujuan akhir pengiriman 130 server canggih, sebagian di antaranya dikirim ke China melalui Indonesia. Salah satu tersangka yang masih buruk diketahui telah menerima keuntungan lebih dari US$21,2 juta dari penjualan tersebut.

Cara AS Blokir China

Situasi ini mendorong Kongres Amerika Serikat untuk menerbitkan UU baru untuk memperketat kendali AS atas rantai pasok chip untuk mencegah produk tercanggih sampai ke China. Rancangan undang-undang yang diberi nama Chip Security Act bahkan mendapatkan dukungan dari kedua partai di AS yang.

"China sangat menginginkan chip kita. Mereka menggunakan cara yang sangat kompleks untuk menyelundupkannya," kata senator AS, Chuck Scuhmmer seperti dikutip dari Politico. "Kita bisa dan harus mempertahankan kepemimpinan kita dalam AI dengan membatasi akses China ke teknologi kita."

Meskipun penindakan telah dilakukan di berbagai negara, para ahli menyatakan upaya ini belum cukup untuk menahan laju perpindahan teknologi.

"Tidak ada titik di mana Anda dapat membatasi akses China terhadap kekuatan komputasi secara memadai," ujar Erich Grunewald, peneliti di Institut Kebijakan dan Strategi AI yang berbasis di Berlin. "Lebih baik memandang kekuatan komputasi sebagai sumber daya strategis, sama seperti minyak atau produksi baja di masa lalu."

Artinya, permintaan akan chip canggih begitu besar dan nilainya begitu tinggi sehingga jalur alternatif akan terus ditemukan selama ada pihak yang membutuhkannya. Negara-negara di kawasan ini yang memiliki pelabuhan sibuk dan jaringan perdagangan yang luas menjadi tempat yang paling mudah untuk menyembunyikan asal-usul perangkat tersebut.

Asia Tenggara Incaran Lokasi Data Center

Di saat yang sama, kawasan ini justru menjadi tujuan investasi besar-besaran untuk pembangunan pusat data. Perusahaan raksasa Amerika Serikat seperti Amazon, Microsoft, Google, serta Oracle dan pemain baru seperti CoreWeave memperluas kehadirannya secara cepat.

Kapasitas daya pusat data di Asia Tenggara diproyeksikan melonjak dari 2,8 gigawatt saat ini menjadi 9,4 gigawatt pada tahun 2035 atau setara dengan daya yang dihasilkan sembilan pembangkit listrik tenaga nuklir.

Kawasan ini diincar karena pertumbuhan ekonomi yang pesat, biaya lahan yang masih terjangkau, serta jaringan kabel bawah laut yang menghubungkan ke seluruh dunia. Namun pertumbuhan ini juga membawa tantangan baru. Jika pengawasan tidak diperketat, fasilitas yang dibangun dapat menjadi tempat persembunyian sekaligus jalur pengalihan chip ke tujuan lain.

Konferensi Tingkat Tinggi di Jakarta

Pertemuan IDSTM Summit 2026 di Jakarta menjadi momen penting untuk menyatukan langkah seluruh negara di kawasan ini.

Thao Anh Tran, Penjabat Kepala Misi AS ke ASEAN, menegaskan hal tersebut dalam pidato pembukanya, mengatakan, "Keamanan ekonomi adalah keamanan nasional, dan itu berarti menutup celah yang memungkinkan teknologi sensitif dialihkan ke pihak yang dapat membahayakan kita semua."

Menteri Perdagangan Indonesia, Budi Santoso, menyampaikan bahwa kerja sama antarnegara adalah kunci agar kawasan ini tetap menjadi pusat pertumbuhan yang aman. "Dengan bekerja sama, kita memastikan kawasan ini tetap menjadi pusat pertumbuhan yang aman, tangguh, dan berkembang pesat," ucapnya.

Duta Besar AS untuk Indonesia, Joy Sakurai, menambahkan bahwa sistem pengawasan yang kuat justru membuka peluang investasi yang lebih besar.

"Ketika Indonesia membangun sistem pengelolaan perdagangan yang kuat dan transparan, kedaulatan dan keamanan negara ikut diperkuat, sekaligus membuka pintu bagi investasi, kerja sama teknologi, dan kemitraan yang lebih dalam," jelasnya.

(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Sea & OpenAI Hadirkan Regional Codex Hackathon Series di Indonesia


Most Popular
Features