Data Center Ditolak di Mana-Mana, Warga Sebut Sumber Petaka
Jakarta, CNBC Indonesia - Gelombang penolakan terhadap keberadaan pusat data (data center) kini mulai menjalar di hampir seluruh negara bagian Amerika Serikat (AS). Aksi protes ini muncul akibat kekhawatiran masyarakat terhadap 'petaka' lingkungan dan ekonomi yang ditimbulkannya.
Sentimen negatif tersebut turut tergambar jelas dalam survei terbaru yang dirilis oleh Pew Research Center. Mayoritas warga AS, yakni 6 dari 10 responden, mengaku merasa tidak nyaman jika ada data center baru yang dibangun dan mulai beroperasi di lingkungan tempat tinggal mereka.
Meski demikian, masih ada sebagian kecil warga yang menilai cukup nyaman (19%) dan sangat nyaman (7%) apabila daerah sekitar mereka dipilih sebagai lokasi data center baru.
Dari sudut pandang masyarakat AS, terdapat sejumlah kekhawatiran utama terkait dampak buruk yang ditimbulkan oleh fasilitas tersebut. Salah satu sorotan terbesar berkaitan dengan kelestarian lingkungan sekitar.
Riset tersebut mencatat bahwa 54% warga AS berpendapat sebagian besar data center memberikan dampak buruk bagi lingkungan. Angka ini mengalami lonjakan signifikan dibandingkan catatan pada Januari lalu yang berada di angka 39%, dikutip dari laman resmi Pew Research Center, Kamis (24/9/2026).
Selain itu, 50% responden mengaitkan keberadaan data center dengan penurunan kualitas hidup masyarakat di sekitarnya.
Di sisi lain, tidak sedikit pula warga yang menyoroti dampaknya terhadap sektor ekonomi lokal. Sebanyak 24% masyarakat menilai data center berdampak buruk bagi ketersediaan lapangan kerja lokal, dan 21% lainnya menganggap fasilitas tersebut berdampak negatif terhadap pendapatan pajak daerah.
Menariknya, penilaian negatif terhadap aspek lapangan kerja dan pendapatan pajak lokal ini juga mengalami tren peningkatan, dengan lonjakan mencapai 9 poin persentase dibanding survei pada Januari lalu.
(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]