Petaka El Nino Makin Parah, 450.000 Orang Terancam Tewas

Novina Putri Bestari,  CNBC Indonesia
24 September 2026 11:22
Dasar kolam air yang retak dan kering di Desa Galwela Yaya, Distrik Ampara, Sri Lanka, 28 Agustus 2026. (REUTERS/Priyanshu Singh)
Foto: Dasar kolam air yang retak dan kering di Desa Galwela Yaya, Distrik Ampara, Sri Lanka, 28 Agustus 2026. (REUTERS/Priyanshu Singh)

Jakarta, CNBC Indonesia - Gelombang panas ekstrem akibat El Nino diperkirakan bakal terjadi hingga Februari mendatang. Sekitar 450 ribu orang diprediksi terancam meninggal dunia akibat fenomena ini.

Para peneliti pun mengingatkan masyarakat agar memastikan ketersediaan pasokan air yang cukup serta menyiapkan pendingin ruangan.

Temuan ini didasarkan pada laporan dari Climate Impact Lab di Universitas Chicago, yang angka kematiannya dihitung dari data suhu ekstrem di masa lalu di seluruh dunia.

Lonjakan kematian banyak ditemukan di belahan bumi selatan karena bertepatan dengan musim semi dan musim panas. Gelombang panas juga kemungkinan besar akan meluas ke belahan bumi utara seiring dengan fenomena El Nino yang masih berlanjut hingga musim semi mendatang di wilayah tersebut.

"Kita bakal melihat angka kematian yang tinggi bergerak ke utara. Sayangnya, saya memperkirakan angka-angka ini bakal kian besar," ujar Emily Grover-Kopec dari Rhodium Group, dikutip dari New Scientist, Kamis (24/9/2026).

Sebuah penelitian pada 2022 membagi dunia menjadi 24.000 wilayah. Berdasarkan data historis tersebut, para peneliti menghitung dampak suhu ekstrem pada masing-masing wilayah.

Tim Grover-Kopec mencoba menggabungkan pendekatan ini dengan prakiraan musiman dari Pusat Prakiraan Cuaca Jangka Menengah Eropa (ECMWF). Melalui metode ini, mereka memperkirakan tambahan jumlah jiwa yang akan melayang akibat gelombang panas pemicu El Nino.

Hasil penelitian menunjukkan adanya tambahan 240.000 kematian pada periode September hingga Februari. Jika digabungkan dengan estimasi sejak El Nino dimulai pada Juni lalu, total korban jiwa diperkirakan mencapai 450.000 orang.

Dampak terparah kemungkinan besar akan terjadi di Afrika, dengan perkiraan lebih dari 30.000 kematian tambahan di Nigeria saja selama enam bulan ke depan.

Selain itu, data dari tim peneliti mencatat potensi korban jiwa di beberapa negara lain, seperti Indonesia sebanyak 19.000 kematian, India 16.000 kematian, dan Brasil 13.000 kematian.

Grover-Kopec juga menjelaskan bahwa kelompok yang paling rentan terhadap dampak fenomena ini adalah kelompok usia lanjut, yang kemudian diikuti oleh kelompok bayi.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Petaka El Nino Makin Parah, Ilmuwan Peringatkan Dampaknya di Indonesia


Most Popular
Features