Dulu Bergaji Tinggi, Pekerjaan Ini Sekarang Jadi Ladang Pengangguran

Intan Rakhmayanti,  CNBC Indonesia
23 September 2026 18:50
Bukti Cari Kerja Makin Susah, Anak Muda China dan RI Jadi Sorotan
Foto: Infografis/ Bukti Cari Kerja Makin Susah, Anak Muda China dan RI Jadi Sorotan/ Ilham
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Terjadi pergeseran besar di pasar tenaga kerja global. Jika dulu suatu profesi menawarkan pendapatan tinggi, jenjang karier yang menjanjikan, serta prestise sosial yang tinggi, kini posisi-posisi tersebut justru menjadi ladang pengangguran baru.

Fenomena tersebut terlihat dari meningkatnya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai sektor yang sebelumnya dianggap paling aman. Langkah efisiensi yang awalnya diperkirakan hanya bersifat sementara kini berkembang menjadi restrukturisasi jangka panjang di banyak perusahaan besar.

Industri teknologi, jasa keuangan, hingga konsultan bisnis menjadi contoh sektor yang mengalami tekanan paling nyata. Posisi-posisi yang dahulu menjadi incaran para pencari kerja kini justru masuk dalam daftar pekerjaan yang rentan dipangkas, seiring upaya perusahaan menekan biaya operasional dan meningkatkan efisiensi.

Data firma konsultan Janco Associates yang mengacu pada Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat menunjukkan tingkat pengangguran di sektor teknologi informasi mencapai 3,8% pada April 2026, naik dibandingkan Maret 2026 yang sebesar 3,6%.

Sejumlah bisnis, khususnya di sektor teknologi, menyatakan bahwa kecerdasan buatan (Artificial Intelligence / AI) menjadi salah satu alasan utama terjadinya pengurangan pegawai. AI menjadi alasan Meta mengurangi sekitar 8.000 pegawai atau 10% dari total tenaga kerjanya, dengan penjelasan bahwa perusahaan tengah berupaya merampingkan operasional sekaligus membiayai investasi di bidang AI.

Nike juga mengurangi 2% atau sekitar 1.400 orang karyawannya-sebagian besar berasal dari departemen teknologi-dengan alasan menyederhanakan operasional global. Sementara itu, Snap memecat 16% karyawannya atau setara dengan 1.000 posisi demi meningkatkan efisiensi.

Bidang teknologi lainnya, seperti telekomunikasi dan pengolahan data, bahkan mengalami pengurangan hingga 11% atau setara 342 ribu pekerjaan. Puncak dari gelombang penyesuaian ini sendiri telah dimulai sejak November 2022 lalu.

Badai di Sektor Teknologi dan Finansial

Selama masa keemasan tech boom, para insinyur perangkat lunak (software engineers), analis data (data scientists), hingga manajer produk (product managers) merupakan komoditas paling mahal di pasar tenaga kerja. Perusahaan saling bakar uang demi merekrut talenta digital terbaik dengan tawaran gaji dua digit hingga fasilitas opsi saham.

Namun, era easy money telah berakhir. Pengetatan kebijakan moneter global dan tingginya suku bunga membuat aliran modal ventura (venture capital) mengering. Akibatnya, perusahaan teknologi, mulai dari skala startup hingga raksasa Big Tech, terpaksa melakukan rasionalisasi biaya secara agresif.

Ironisnya, para pekerja dengan gaji tertinggilah yang paling awal terkena dampak efisiensi ini demi menyelamatkan neraca keuangan perusahaan.

Kondisi serupa terjadi di sektor perbankan investasi (investment banking) dan konsultan manajemen papan atas. Penurunan aktivitas aksi korporasi secara global, seperti merger dan akuisisi (M&A) serta penawaran umum perdana (IPO), membuat posisi-posisi analis berpendapatan tinggi kehilangan urgensinya.

Ancaman Nyata AI

Selain faktor makroekonomi, akselerasi adopsi AI generatif menjadi katalis utama yang mengubah lanskap ketenagakerjaan ini. AI tidak lagi sekadar menggantikan pekerjaan kasar atau repetitif, melainkan sudah mulai mengikis posisi para pekerja kerah putih (white-collar workers) berketerampilan tinggi.

Profesi seperti analis hukum, pembuat kode pemrograman tingkat dasar hingga menengah (mid-level coders), analis riset pasar, hingga spesialis keuangan kini dapat direplikasi oleh sistem AI dengan biaya yang jauh lebih murah dan waktu yang jauh lebih efisien.

Banyak perusahaan menyadari bahwa dengan mengintegrasikan AI, mereka dapat memangkas jumlah tim hingga separuhnya tanpa menurunkan produktivitas. Hal ini menciptakan surplus tenaga kerja ahli di pasar, di mana jumlah pelamar kerja berkualifikasi tinggi jauh melampaui lowongan yang tersedia.

Kepala Eksekutif Janco, Victor Janulaitis, menjelaskan bahwa alasan perusahaan menunda atau mengurangi perekrutan tenaga IT adalah karena dunia tengah menghadapi inflasi dan ketidakpastian ekonomi.

"Mengapa mereka harus merekrut spesialis AI untuk sesuatu yang mungkin tidak menghasilkan?" ucap Janulaitis, dikutip dari The Wall Street Journal.

Dampak Psikologis dan Finansial 'Gaya Hidup'

Fenomena menganggurnya para pekerja bergaji tinggi ini membawa dampak turunan yang signifikan. Berbeda dengan pekerja sektor informal, kelompok profesional ini umumnya memiliki beban finansial yang disesuaikan dengan pendapatan tinggi mereka sebelumnya, seperti cicilan hunian premium, kendaraan mewah, hingga biaya pendidikan anak di sekolah internasional.

Ketika kehilangan pekerjaan, kelompok ini sering kali mengalami lifestyle inflation shock. Mereka kesulitan menurunkan standar hidup dengan cepat, sementara tabungan yang ada terus tergerus untuk menutup biaya operasional yang tinggi.

Di sisi lain, proses pencarian kerja baru bagi para eksekutif dan profesional senior ini memakan waktu yang jauh lebih lama. Perusahaan yang tengah melakukan efisiensi cenderung enggan merekrut kandidat yang dianggap overqualified karena kekhawatiran akan ekspektasi gaji yang terlalu tinggi.

Para pengamat ketenagakerjaan menilai, kondisi ini memaksa para profesional untuk melakukan reskilling (pelatihan ulang) atau bahkan menurunkan ekspektasi kompensasi (salary downgrade) demi bisa kembali terserap ke dalam pasar kerja yang kini jauh lebih kompetitif dan pragmatis.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Dunia Berubah, Profesi Bergaji Tinggi Kini Jadi Ladang Pengangguran


Most Popular
Features