Bumi Ternyata Tidak Bulat, Bentuknya Berubah Sedikit Demi Sedikit

Intan Rakhmayanti Dewi,  CNBC Indonesia
22 September 2026 18:30
Italia dan Pulau Sisilia (9/6/2019). (Johnson/Nasa)Stasiun Luar Angkasa Internasional sedang mengorbit 255 mil di atas Laut Mediterania ketika seorang awak Ekspedisi 59 yang mencari di barat laut mengambil foto Italia dan pulau Sisilia ini.
Foto: Italia dan Pulau Sisilia (9/6/2019). (Johnson/Nasa)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bumi ternyata tidak benar-benar berbentuk bulat sempurna. Rotasi planet membuat bagian khatulistiwa sedikit menggembung, sementara kutub lebih pipih.

Namun, bentuk Bumi kini perlahan berubah. Penelitian terbaru menunjukkan bagian padat Bumi di wilayah kutub makin terangkat, sedangkan wilayah sekitar khatulistiwa justru semakin turun. Kondisi ini membuat bentuk fisik Bumi menjadi sedikit lebih bulat atau tidak terlalu pepat.

Studi yang dilakukan geolog Christopher Kotsakis dari Aristotle University of Thessaloniki, Yunani, menemukan laju kenaikan permukaan di wilayah kutub meningkat hampir dua kali lipat dalam waktu kurang dari 20 tahun.

Peneliti menggunakan data dari jaringan Global Navigation Satellite System (GNSS) untuk melacak perubahan vertikal permukaan Bumi pada periode 1997-2015.

Hasilnya, antara 1997 dan 2000, wilayah kutub naik sekitar 0,5 milimeter per tahun. Pada 2015, kecepatannya meningkat menjadi sekitar 1 milimeter per tahun.

Pada saat yang sama, wilayah khatulistiwa mengalami penurunan permukaan dengan laju yang juga meningkat. Artinya, bagian padat Bumi semakin tidak pepat.

Salah satu penyebabnya diduga berasal dari mencairnya lapisan es di Greenland dan Antartika. Ketika es mencair, beban yang selama ini menekan kerak Bumi berkurang sehingga permukaan tanah di bawahnya perlahan terangkat kembali.

Fenomena ini dikenal sebagai glacial isostatic adjustment, yakni proses penyesuaian kerak Bumi setelah kehilangan beban es.

Air hasil pencairan es kemudian tersebar ke lautan dan menambah massa di wilayah lain. Distribusi massa tersebut membuat dasar laut di lintang yang lebih rendah mendapat tekanan tambahan dan mengalami penurunan.

Kotsakis menjelaskan perubahan tersebut membuat bentuk fisik Bumi dan bentuk gravitasinya bergerak ke arah yang berbeda.

"Hasil kami menunjukkan adanya percepatan pengangkatan di wilayah kutub yang disertai dengan peningkatan laju penurunan permukaan di wilayah khatulistiwa pada tingkat yang sebanding," tulis Kotsakis dalam penelitian yang diterbitkan di Journal of Geophysical Research: Solid Earth, dikutip dari Science Alert, Selasa (22/9/2026).

"Hal ini berarti bentuk keseluruhan Bumi padat menjadi sedikit kurang pipih," imbuhnya

Meski bagian padat Bumi menjadi sedikit lebih bulat, bentuk geoid atau gambaran Bumi berdasarkan distribusi medan gravitasinya justru semakin pepat.

Hal ini terjadi karena gravitasi merespons distribusi massa. Ketika massa air berpindah dari wilayah kutub menuju lintang yang lebih rendah, bentuk gravitasi Bumi ikut berubah.

"Meskipun perilaku ini mungkin tampak berlawanan dengan intuisi jika dikaitkan dengan penurunan tingkat pemepatan Bumi padat yang terjadi pada saat bersamaan, kedua efek tersebut secara fisik saling selaras," kata Kotsakis.

(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Bumi Berdenyut Tiap 125 Menit Terima Sinyal Misterius dari Antariksa


Most Popular
Features