Fenomena Karyawan Bingung Tiba-Tiba Dipaksa Kerja Pakai AI

Intan Rakhmayanti,  CNBC Indonesia
21 September 2026 16:30
Kantor. (Dok. Freepik)
Foto: Kantor. (Dok. Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) di tempat kerja semakin didorong oleh perusahaan, tetapi sebagian karyawan justru masih bingung dengan alasan di balik penerapannya.

Riset yang dilakukan oleh Culture Amp menunjukkan bahwa 85% pekerja mendapat dorongan untuk menggunakan AI dalam menjalankan tugas. Namun, hampir separuh atau 48% karyawan masih mempertanyakan alasan mereka harus menggunakan teknologi tersebut.

Survei bertajuk How Employees Really Feel About AI at Work itu melibatkan 112.000 responden dari 123 perusahaan di berbagai negara. Hasilnya menunjukkan adanya jarak antara strategi perusahaan dalam menerapkan AI dan komunikasi manajer kepada karyawan.

Di satu sisi, pekerja merasakan manfaat AI, terutama dalam meningkatkan produktivitas dan motivasi. Mereka juga memahami sejumlah risiko dari teknologi tersebut. Namun, banyak dari mereka yang belum mendapat arahan jelas mengenai tujuan penggunaan AI, dampaknya terhadap pekerjaan, hingga keterampilan apa yang akan tetap dibutuhkan di masa depan.

Amy Lavoie, VP of People Science di Culture Amp, mengatakan kondisi tersebut tidak menunjukkan bahwa karyawan menolak perubahan.

"Karyawan mengatakan mereka memahami risikonya, mereka menggunakan alat-alat tersebut, dan mereka merasa lebih produktif. Itu bukan tenaga kerja yang menolak perubahan. Itu tenaga kerja yang sudah melakukan bagiannya dan sekarang menunggu pimpinan melakukan bagian mereka," ujar Lavoie, dikutip dari TechRadar, Senin (21/9/2026).

Menurutnya, ketidakjelasan tersebut juga terjadi karena perusahaan masih menyusun strategi AI mereka. Manajemen belum memiliki kepastian mengenai pekerjaan apa yang akan berubah akibat AI, keterampilan apa yang tetap bernilai, serta seperti apa jalur karier karyawan dalam beberapa tahun ke depan.

"Kita belum tahu dengan pasti peran apa yang akan dibentuk ulang oleh AI, keterampilan apa yang tetap bernilai, atau seperti apa jalur karier tiga tahun ke depan," kata Lavoie.

Kondisi itu membuat sebagian pemimpin memilih untuk diam karena khawatir memberikan informasi yang nantinya terbukti keliru. Akibatnya, karyawan tetap diminta untuk menggunakan AI tanpa memahami arah besar dari penerapannya.

Lavoie mengatakan perusahaan tidak harus memiliki semua jawaban saat ini. Menurutnya, para pemimpin justru perlu bersikap terbuka bahwa strategi penggunaan AI masih dalam proses penyusunan.

"Kepastian bukanlah yang dibutuhkan karyawan dari Anda saat ini. Keterbukaanlah yang dibutuhkan," ujarnya.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Bos Telkom Ungkap Peluang Bisnis Baru dari Kantor BGN


Most Popular
Features