Huawei Ketahuan Pindahkan Rp20 Triliun 5 Hari Setelah Didakwa Kriminal

Redaksi,  CNBC Indonesia
17 September 2026 16:50
Huawei. (REUTERS/Dado Ruvic/Illustration/File Photo)
Foto: REUTERS/Dado Ruvic

Jakarta, CNBC Indonesia - Raksasa teknologi asal China, Huawei, terbukti memindahkan dana sebesar US$ 1,3 miliar atau sekitar Rp 20 triliun dari rekening di London hanya 5 hari setelah didakwa secara resmi oleh pemerintah Amerika Serikat. Transaksi tersebut dilakukan secara mendadak pada hari libur akhir pekan, melewati prosedur pengawasan keuangan yang seharusnya berlaku, atas perintah langsung dari kantor pusat bank di Beijing.

Hal ini terungkap dari penyelidikan jurnalis internasional yang diterbitkan Kamis (17/9/2026).

Berdasarkan dokumen rahasia yang ditinjau oleh Konsorsium Jurnalis Penyelidikan Internasional (ICIJ), peristiwa itu terjadi pada 2 Februari 2019. Sembilan petugas bank ditarik masuk bekerja pada hari Sabtu untuk menyelesaikan pemindahan dana itu dalam waktu beberapa jam saja.

Lima hari sebelum kejadian itu, Departemen Kehakiman AS telah mengajukan dakwaan resmi terhadap Huawei. Perusahaan dituduh melakukan tindakan kriminal penipuan, melanggar sanksi internasional, serta pencucian uang.

Direktur Keuangan Huawei, Meng Wanzhou, juga telah ditangkap di Kanada atas permintaan Amerika Serikat.

Alih-alih menunggu penjelasan atau membekukan dana sementara, Bank Industri dan Komersial China (ICBC) cabang London justru memproses permintaan penarikan seluruh simpanan Huawei secara mendesak. Catatan internal bank mencatat kekhawatiran bahwa Huawei berusaha memindahkan aset agar tidak dibekukan oleh otoritas Amerika Serikat.

"Ada kemungkinan Huawei berusaha memindahkan dana agar terhindar dari pembekuan aset oleh penyidik sanksi Amerika Serikat," tulis petugas pencegahan pencucian uang ICBC London dalam laporan internalnya.

Namun peringatan itu diabaikan. Kantor pusat di Beijing memerintahkan transaksi tetap dilaksanakan.

ICBC adalah bank BUMN terbesar di China. Dalam dokumen terungkap bahwa Huawei dianggap sebagai "klien strategis" yang mendapat perlakuan istimewa. Aturan pemeriksaan ketat kerap dikesampingkan atas arahan dari Beijing.

Petugas kepatuhan di London meminta menunda transaksi sampai ada kejelasan asal-usul dana, tetapi manajemen menolak. Pemindahan dana dilakukan di luar jam kerja resmi tanpa pemeriksaan menyeluruh.

Setelah itu, bank justru membuka rekening baru bagi Huawei di negara lain untuk memudahkan pergerakan keuangannya. Seorang pengamat keuangan menyatakan bahwa bank milik China beroperasi dengan aturan yang berbeda dari bank internasional lain.

"Jika harus memilih mengikuti peraturan pengawas negara tempat beroperasi atau perintah dari partai di Beijing, yang menang adalah Beijing," ungkapnya.

Hampir 7 tahun berlalu sejak peristiwa itu, sidang pengadilan terhadap Huawei baru saja dimulai di New York pekan ini. Jaksa penuntut menyatakan bahwa selama puluhan tahun perusahaan beroperasi dengan pola kebohongan dan penipuan, menyebut Huawei sebagai organisasi kriminal. Pihak pembela menolak tuduhan tersebut dan menyatakan keberhasilan perusahaan diraih melalui kerja keras, bukan kejahatan.

Sementara itu, terungkap pula bahwa ICBC telah menyalurkan pinjaman lebih dari US$ 2 miliar untuk proyek Huawei di berbagai negara sejak tahun 2003, termasuk di Indonesia, Nigeria, Afrika Selatan, dan India. Bantuan keuangan tersebut memungkinkan Huawei menawarkan perangkat jaringan dengan harga murah ke seluruh dunia, sekaligus memperluas pengaruh teknologi China di berbagai benua.

Artinya, pemindahan dana miliaran dolar yang dilakukan secara diam-diam itu bukan sekadar urusan keuangan biasa. Itu adalah bukti nyata bagaimana kekuatan keuangan negara dapat digunakan untuk melindungi perusahaan strategis, bahkan ketika perusahaan tersebut sedang berhadapan dengan hukum di negara lain.

(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Huawei Berdarah-Darah, Kekuatan China Lawan AS Terancam


Most Popular
Features