Krisis Baru Hantam Amerika, Trump Blak-Blakan Bilang Begini

Redaksi,  CNBC Indonesia
15 September 2026 07:40
U.S. President Donald Trump gestures from inside a vehicle as he arrives in Geneva, Ohio, U.S., August 11, 2026. REUTERS/Kylie Cooper     TPX IMAGES OF THE DAY
Foto: REUTERS/Kylie Cooper

Jakarta, CNBC Indonesia - Panggung politik Amerika Serikat (AS) mendadak dihantam krisis, menyusul benturan antara alarm bahaya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan ambisi hegemonik Gedung Putih.

Di satu sisi, para bos raksasa teknologi menggaungkan pentingnya rem darurat peningkatan AI demi mencegah 'petaka' besar yang bisa berujung pada kepunahan umat manusia.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump justru kukuh menolak mengerem peningkatan AI karena bertekad memenangi perlombaan teknologi melawan China dengan cara apa pun.

Tekanan publik memuncak setelah gelombang pengunduran diri peneliti internal Anthropic yang membunyikan alarm mengerikan. Ia secara lantang menyebut AI yang melaju tanpa kendali dapat memusnahkan ras manusia sebelum dekade ini berakhir.

Situasi ini memicu respons tak terduga dari para elite industri. Bos-bos besar seperti CEO Anthropic Dario Amodei, CEO OpenAI Sam Altman, hingga pendiri SpaceX Elon Musk, kompak menyerukan perlambatan inovasi dan pentingnya regulasi ketat.

"Dr. Frankenstein memberi tahu kita bahwa monster itu sedang lepas, bantu kami menghentikannya," seru Senator Demokrat asal Arizona, Ruben Gallego, dalam program State of the Union di CNN International, seraya mengkritik lambannya respons parlemen, dikutip dari CNBC International, Senin (14/9/2026).

Bahkan, Gubernur Pennsylvania Josh Shapiro mendesak Kongres untuk segera bertindak. Menurutnya, lampu merah sudah menyala terang dan pengembangan AI tidak boleh lagi diserahkan begitu saja secara eksklusif kepada entitas swasta.

Benturan Visi: Rem Darurat Vs Ambisi Kemenangan Trump

Namun, di tengah kepanikan tersebut, Gedung Putih justru mengambil jalur berlawanan. Trump dengan tegas menepis segala wacana perlambatan dan regulasi yang mengekang.

Dalam kunjungan singkatnya di Irlandia, Trump menyebut para penggagas pengetatan AI sebagai "kekuatan-kekuatan negatif" yang gemar meniupkan ketakutan palsu.

Bagi Trump, menginjak rem di tengah jalan sama saja dengan menyerahkan mahkota kekuasaan global kepada Beijing.

"Kita memimpin China dalam AI. Kita negara paling canggih di dunia, dan jujur saya ingin mempertahankannya, karena siapa pun yang memenangkan AI adalah pemenangnya," tegas Trump.

Sikap Trump ini langsung membelah Kongres, terlebih di tengah bayang-bayang pemilu paruh waktu pada 3 November mendatang. Sejumlah politisi Demokrat mendesak agar masa reses dibatalkan demi segera mengesahkan undang-undang pengamanan AI, termasuk opsi pengecualian antimonopoli dan penerapan tombol darurat (kill switch).

Sebaliknya, Ketua DPR dari Partai Republik, Mike Johnson, dengan tegas menolak buru-buru bersidang. Ia beralasan bahwa langkah panik Kongres justru akan menjadi bumerang.

"Jika Kongres terburu-buru mengadakan sesi darurat untuk meregulasi AI, kita akan kalah dalam perlombaan melawan China, dan itu adalah ancaman bagi setiap warga negara Amerika," ujar Johnson.

Dilema Geopolitik di Ujung Tanduk

Perseteruan ini memperlihatkan dilema paling runcing di era modern, yakni bagaimana meredam ancaman eksistensial teknologi tanpa kehilangan muka dalam persaingan geopolitik melawan rival utama.

Amodei sendiri mengakui bahwa ambisi militer dan insentif untuk mendahului lawan membuat verifikasi kepatuhan global menjadi pekerjaan maha berat.

Sementara itu, para pengamat menilai waktu Washington kian menipis. Ketika para politisi sibuk memperdebatkan urgensi pemilu dan ancaman hilangnya kendali atas teknologi masa depan, AI terus melaju tanpa peduli apakah penciptanya berasal dari Barat atau Timur.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article China Blak-Blakan Ungkap Taktik Perang Dingin Amerika


Most Popular
Features