Dunia Bersiap Hadapi Petaka Besar, Elit Global Minta Semua Siaga Penuh
Jakarta, CNBC Indonesia - Deretan raksasa teknologi dunia, mulai dari OpenAI, Anthropic, Microsoft, Alphabet, hingga Amazon, membunyikan alarm darurat. Mereka secara terbuka mendesak adanya mobilisasi pertahanan berskala besar di seluruh penjuru masyarakat demi menghadapi ancaman nyata dari gelombang peretasan berbasis kecerdasan buatan (AI) yang kian masif.
Dalam surat terbuka bersama yang dirilis pada Kamis (27/8) waktu setempat, koalisi raksasa teknologi ini memperingatkan bahwa waktu kian menipis untuk memperkuat benteng pertahanan digital sebelum bencana siber akibat AI benar-benar meledak.Â
Koalisi raksasa teknologi ini juga turut didukung lebih dari 100 perusahaan global seperti IBM, Mastercard, Oracle, Visa, hingga Cloudflare.
"Dalam beberapa bulan mendatang, serangan siber berbasis AI akan menjadi jauh lebih masif seiring dengan kecerdasan model yang terus meningkat di seluruh dunia," tulis para eksekutif industri dalam surat tersebut, dikutip dari Reuters, Jumat (28/8/2026).
Mereka juga mendesak pemerintah dan para pemimpin bisnis untuk mengerahkan seluruh sumber daya dan keahlian demi membendung ancaman ini.
Eskalasi bahaya ini bukan lagi sekadar isapan jempol. Ketakutan bahwa kemajuan AI bakal mendongkrak kapabilitas peretas kini telah menjelma menjadi kenyataan pahit. Berbagai elemen kejahatan siber dilaporkan semakin agresif mengeksploitasi large language models (LLM) untuk menjebol sistem keamanan berbagai organisasi lintas negara.
Bahkan, aliansi intelijen "Five Eyes" yang beranggotakan AS, Inggris, Kanada, Australia, dan Selandia Baru, sempat mengeluarkan peringatan keras bahwa revolusi AI kini tengah berada di ambang titik nadir yang akan mengubah secara fundamental lanskap kerentanan keamanan siber global.
Di tengah ancaman ancaman siber yang kian brutal dan tak kenal ampun, para raksasa teknologi mendesak pemerintah untuk mempercepat program akses keamanan khusus serta menuntut setiap organisasi untuk menjadikan pertahanan siber sebagai prioritas mutlak para petinggi perusahaan.
Kendati demikian, langkah antisipasi ini dibayangi oleh ironi. Di AS sendiri, agensi pertahanan siber CISA justru tengah pincang akibat pemangkasan anggaran tajam yang membuat jumlah stafnya merosot hingga sepertiga tahun lalu.
(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]