Senjata Baru China Super Canggih, Dunia Bersiap Hadapi Petaka

Redaksi,  CNBC Indonesia
26 August 2026 21:00
Ilustrasi logo deepseek. (AP Photo/Andy Wong)
Foto: Ilustrasi logo deepseek. (AP Photo/Andy Wong)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ancaman siber berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kian mengerikan. Kelompok peretas (hackers) yang disebut terafiliasi dengan pemerintah China dilaporkan melipatgandakan intensitas serangan siber global usai mengintegrasikan model AI sumber terbuka (open-source), khususnya DeepSeek, ke dalam taktik peretasan mereka.

Berdasarkan laporan terbaru dari lembaga riset keamanan siber asal Taiwan, TeamT5, volume serangan siber melonjak lebih dari dua kali lipat sejak para peretas mulai melempar tugas-tugas peretasan rutin kepada AI dan menggunakannya untuk menciptakan malware canggih.

DeepSeek Jadi Senjata Favorit Peretas

Di tengah ketakutan pejabat keamanan AS akan potensi otonom dari model AI tingkat lanjut seperti buatan OpenAI atau Anthropic yang berisiko lepas kendali, peretas asal China justru memanfaatkan AI berkapabilitas lebih dasar namun efektif untuk memperluas jangkauan serangan.

Dibandingkan model lokal lain yang lebih perkasa seperti Kimi K3 besutan Moonshot, DeepSeek menjadi pilihan utama akibat sistem keamanan siber (cyber guardrails) yang terlampau longgar serta biaya operasional yang super murah.

"DeepSeek menjadi AI favorit peretas China karena tergolong andal namun punya benteng keamanan (guardrails) yang sangat lemah. Model AI Barat memang sangat diminati, tetapi pembatas keamanannya sangat ketat dan butuh usaha ekstra keras untuk ditembus," ungkap Charles Li, Chief Analyst TeamT5, dikutip dari StraitTimes berdasarkan laporan Reuters, Rabu (26/8/2026).

Beberapa rekam jejak aksi peretas yang memanfaatkan DeepSeek antara lain:

  • Grup Grimfengxi: Memanfaatkan DeepSeek untuk merancang kode eksploitasi celah keamanan.

  • Grup Huapi: Menggunakan model AI asal China (terindikasi kuat DeepSeek) untuk meretas sistem email perusahaan teknologi di Taiwan.

  • Grup Teleboyi: Menggunakan AI untuk mengumpulkan 1.000 alamat IP dan memetakan domain perusahaan target.

Manfaatkan Celah ChatGPT hingga Claude buatan AS

Tak cuma AI lokal, para peretas China ternyata juga mengakali AI terkemuka buatan raksasa teknologi AS untuk melancarkan aksinya.

Firma siber CyCraft menemukan bukti bahwa sebuah penyedia perangkat lunak peretasan sempat berkonsultasi dengan ChatGPT untuk membuat modul software pembobol basis data aplikasi perpesanan Signal milik korbannya.

Startup pengembang alat peretas yang beranggotakan 10 orang ini diketahui menjual tool bajakan tersebut seharga 300.000 hingga 500.000 yuan kepada sedikitnya empat kelompok peretas-termasuk grup kenamaan Mustang Panda yang disokong Beijing.

Di sisi lain, peretas bernama grup Slime22 juga ketahuan memanfaatkan Claude Code milik Anthropic. Mereka berpura-pura menjadi engineer siber yang sedang melakukan uji penetrasi, lalu memerintahkan Claude Code untuk menembus dan menyusup ke dalam jaringan internal perusahaan teknologi Taiwan.

Menanggapi fenomena ini, baik OpenAI maupun Anthropic menyatakan komitmennya untuk terus memblokir dan mengendus segala bentuk penyalahgunaan model AI mereka dari aktivitas peretasan ilegal. Anthropic sendiri mencatat insiden peretasan otonom via Claude Code ini menjadi kasus perdana di dunia di mana serangan siber berskala besar berhasil dieksekusi tanpa campur tangan manusia secara signifikan.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Pertama di Dunia, Satu Negara Lumpuh Dibobol AI Tanpa Bantuan Manusia


Most Popular
Features